Apa yang pernah dulu kita impikan bersama, cita-cita, harapan, dan hasrat untuk menjadikan Kamase sebagai lembaga kemahasiswaan yang besar, saat ini sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan wujudnya. Momentum datang, dan Carpe Diem!!!…Kamase Goes to Mumbai and became major winner in Mondialogo Engineering Award (MEA). Berturut-turut Kamase diundang itu berbicara dalam berbagai seminar/simposium, baik yang skala lokal, nasional, maupun internasional. Semua ini menjadi hal yang membanggakan, termasuk bagi saya, meskipun saat ini tidak duduk dalam kepengurusan aktif. Perasaan sebagai founding father seolah mengabsahkan perasaan yang ada dalam diri. Setidaknya, apa yang dulu kami lakukan tidak sia-sia dan bukan sekadar mencari sensasi, tetapi benar-benar dilandasi oleh idealisme (istilah yang mungkin sekarang sangat asing bagi mahasiswa)Keberhasilan ini membawa konsekuensi-konsekuensi, yang tentu saja tetap harus disikapi agar lembaga ini tidak tertinggal dalam dialektika sejarahnya. Keadaan semakin berkembang, banyak yang harus dilakukan, sehingga kebutuhan-kebutuhan yang dulu tidak pernah terpikir sekarang harus dipikirkan. Banyak tantangan dan ancaman ke depan yang harus dihadapi, termasuk vested interested dari berbagai pihak, termasuk pihak internal. Jaringan yang terbentuk pun lebih luas daripada apa yang kami (angkatan 2000) lakukan dulu, bahkan jaringannya mampu menembus level internasional. Jaringannya betul-betul riil, bukan sekadar jaringan-jaringan yang hanya ada di dunia maya. Prestasi yang luar biasa tentunyaMaka, sebagaimana hukum materi, maka Kamase harus bergerak dan berubah untuk merespon perkembangan ini. Perubahan ini diperlukan, agar Kamase tidak tertinggal oleh laju sejarah yang semakin kencang. Maka tak heran bahwa dalam beberapa pertemuan, antara alumni (aku dan anto) dengan para new kamase-ers (angkatan 2003 dan 2005) selalu muncul wacana-wacana yang mencoba untuk mereposisi Kamase. Wacana yang menarik dan berguna sebenarnya, tetapi aku takut ini malah mengarah pada upaya kontraproduktif, karena waktu kita hanya akan habis untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Dalam forum tersebut akhirnya tercetus ide untuk bikin Kamase.com (usaha profit), atau salah satu pembimbing yang mencetuskan ide untuk bikin NGO dibidang energi terbarukan. Dalam forum tersebut (setelah beberapa kali mengadakan pertemuan di Yogya), setidaknya menghasilkan beberapa point penting, bahwa kamase.org (istilah yang kami ciptakan untuk menunjuk pada kamase yang di kampus) tetap bergerak di dunia kampus sebagai “tempat main” mahasiswa untuk mengasah kemampuan intelektualitas dan manajemen organisasi, sekaligus untuk memperluas jaringan kerja. Tempat untuk memupuk idealisme, sesuatu yang idealnya harus dimiliki oleh mahasiswa. Sementara aku ma anto akan mencoba merintis upaya pendirian kamase.com yang berorientasi pada lembaga komersial (profit) yang bergerak di bidang energi terbarukan. Sementara untuk NGO, posisinya masih menunggi salah satu perintis pulang dari studi Ph.D di Australia.Kenapa kita mengambil bentuk-bentuk seperti itu? Dan kenapa semua coba untuk diakomodasi? Bagaimana kekuatan kita? Karena kita membayangkan sebuah hubungan yang harmonis (simbiosis mutualisme) antara ketiga bentuk tersebut. Harus diakui, selama ini sumber dana kamase.org tidak jelas, karena kita kukuh dengan independesi kita (bukan berarti kita mendapatkan sumber dana dari tindakan melanggar hukum) –belakangan sikap independensi tersebut digugat, yang justru menunjukkan betapa kamase sangat dinamis. Sehingga dengan kamase.com, salah satu masalah dalam penyediaan sumber dana bagi gerak dan aktifitas kamase.org terpecahkan. Lantas, apa yang didapat kamase.com? Kamase.org akan memberikan sumberdaya manusia. Dengan demikian, selain dana kamase.org juga akan mendapatkan wadah untuk berkreasi dengan ide-ide dan gagasan mereka. Demikian juga dengan NGO (rencananya akan diberi nama CREATe), dapat menjadi pendukung utama kamase.com, mengingat tenaga ahli dengan kualifikasi Master dan Doktor akan berada disana. Sehingga, akan muncul sebuah research based company. Lantas apa yang didapat oleh CREATe ? Kenapa kita selalau berpikir untung-rugi dalam sebuah hubungan? Kita belum memikirkan bentuk-bentuk hubungan tersebut, tapi seharusnya (das sein) hubungan yang ada tidak mencerminkan hubungan untung-rugi, tapi lebih pada kesamaan visi, misi, idealisme, dan cita-cita. Selain itu, saat ini kita masih mengandalkan pada hubungan emosional, yang berarti hubungan yang sifatnya kultural. Hal ini membuktikan dominannya pendekatan kultural yang dilakukan oleh Kamase daripada pendekatan struktural. Waktu (sejarah) yang akan membuktikan efektifitas pendekatan kultural tersebut, dan apabila diperlukan tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan modifikasi atas pendekatan tersebut.Belakangan, muncul gagasan untuk memperluas struktur organisasi agar sesuai dengan kebutuhan. Ini untuk merespon kebutuhan untuk merespon isu sustainable technology, yang meniscayakan pendekatan multidisiplin dan lintas ilmu. Karean itu, kita butuh orang-orang yang mengerti tentang ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam gerakan kamase selanjutnya –demikian argumennya. Saya pikir, untuk merespon isu tersebut kita tidak boleh gegabah. Sebenarnya, ada beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan ketika kita mencoba untuk melakukan perubahan, agar perubahan yang dilakukan tidak membongkar bangunan dasar lembaga tersebut, sehingga ciri dan karakter khas kamase tetap utuh.Yang pertama, adalah sifat independen kamase. Ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Ini adalah akidah kamase, dan semua anggota kamase wajib beriman kepadanya. Kamase harus mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung kepada pihak lain, sehingga bebas dari intervensi, sehingga bebas berkreasi tanpa dibatasi. Keberpihakan kamase hanya pada rakyat dan kebenaran ilmiah. Itulah idealisme kita yang tidak boleh luntur. Yang kedua, adalah bahwa kamase lahir dari jurusan Teknik Fisika UGM, sehingga dalam geraknya adalah dari, dan oleh mahasiswa jurusan Teknik Fisika UGM, tetapi untuk rakyat dan kebenaran ilmiah. Pengertian inilah yang kemudian dapat diperluas dan disesuaikan sesuai dengan kebutuhanYang ketiga, visi, misi, dan tujuan kamase adalah energi, terutama energi terbarukan. Maka segala perubahan itu tidak mengeluarkan kamase dari rel-nya, yaitu energi.Berangkat dari hal tersebut, maka perubahan yang hendak dilakukan, terutama pada struktur organisasi, hendaknya dilakukan dengan tidak mencabut identitas kamase (independen dan energi terbarukan). Mengenai penambahan anggota baru, saya pikir tidak ada masalah kalau memang itu diperlukan dan menjadi kebutuhan yang mendesak serta untuk jangka panjang, dengan syarat bahwa kamase tetap berbasis pada jurusan Teknik Fisika UGM. Ini berarti yang menjadi lingkar inti, think tank, ataupu motor penggerak kamase tetap mahasiswa Teknik Fisika UGM. Mahasiswa lain sifatnya hanya komplementer semata, untuk menambah khasanah keilmuan di bidang lain agar sustain. Hal ini berarti pengembangan teknologi energi masih menjadi domain utama kegiatan kamase. Ini bukan bermaksud menganaktirikan ataupun diskriminasi terhadap mahasiswa jurusan lain, tetapi adalah sebagai upaya menjaga agar kamase tetap berada di jalur yang benar. Dan yang tak kalah penting adalah, sejauhmana kekuatan kita untuk tetap mengantisipasi setiap perubahan yang ada. Mahasiswa TF harus seoptimum mungkin diberdayakan, termasuk didalamnya adalah bidang-bidang non-teknis. Bukankah dengan demikian mahasiswa JTF anggota kamase memiliki nilai lebih bila dibanding yang bukan anggota kamase?.Masih banyak lagi persoalan yang mungkin akan muncul dan membutuhkan respon yang cepat dan bijak. Oleh karena itu, menurut saya perlu dipikirkan bagaimana sebuah organisasi modern bekerja lewat AD/ART, agar setiap perubahan yang dilakukan tidak membuat keluar dari jalurnya. Atau bila tidak diinginkan menjadi lembaga yang birokratis, maka kamase harus merumuskan pendekatan kultural yang mungkin dilakukan, dengan melibatkan komponen utama (pengurus, alumni, dan pembimbing). Di sini, kita lebih mengedepankan pada aspek etis dalam pendekatannya. Pertanyaannya, sejauh mana kemudian kita semua memiliki komitmen terhadap cita-cita dan idealisme Kamase?.
Silsilah keluargaku, 5 generasi yang lalu
•Februari 5, 2008 • 1 KomentarAda beberapa kepercayaan yang diyakini oleh keluarga besar dari ibuku, yaitu bahwa kami adalah keturunan dari Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya Sultan Pajang. Namun belum ada satu dokumenpun yang mampu membuktikan kepercayaan itu. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan silsilah keluarga besar di tempat nenek. Sayang, silsilah itu terhenti pada enam generasi di atas (perkiraanku sih akhir abad ke -18 atau sekitar akhir tahun 1700-an), padahal Joko Tingkir hidup tahun 1500-an. Dibawah ini, saya salin ke dalam bahasa Indonesia, karena dokumen aslinya dalam bahasa Arab. Karena itu, banyak nama orang atau nama lokasi yang masih kosong atau bahkan salah (mohon maaf untuk itu), karena keterbatasan saya dalam penguasaan bahasa Arab. Disamping itu, pohon silsilah dibawah ini masih sangat kurang lengkap. Masih banyak yang kosong. Karena itu, jika ada salah satu anggota keluarga keturunan KH. Idris yang mau melengkapi dokumen ini, saya akan sangat senang sekali.Pada akhirnya, sejarah memang harus ditulis .. SILSILAH KETURUNAN KH. IDRIS BAURENO – BOJONEGORO KH. Idris meninggal dan makamnya di Sendang – Baureno, Bojonegoro. KH. Idris berputera 11 orang, yaitu :
- H. Mahali, meninggal dan dimakamkan di desa Grenjeng – Baureno
- M. Joyodimejo, meninggal dan dimakamkan di desa Baureno
- Ny. Hasan Isma’il, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
- M. Suhud, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
- M. As’ari, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
- M. Prawiro, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
- Ny. Lurah Mlidek, meninggal dan dimakamkan di desa Mlidek – Kedungadem, Bojonegoro
- Ny. Pah, meninggal dan dimakamkan di desa Mlidek – Kedungadem, Bojonegoro
- Ny. KH. Abdul Jabar, Maskumambang – Sedayu, Lamongan
- Ny. KH. Muhammad Taslim, Kebon – Baureno, Bojonegoro (Makam di desa Sendang - Baureno).
- H. Yoyib Naib Tambakboyo, dimakamkan di Tambakboyo, Tuban
Dari sebelas orang tersebut memiliki keturunan sebagai berikut :I. H. Mahali berputera hanya seorang, yaitu Abdurrahim, yang memiliki keturunan sebagai berikut :1. Ny. Abu (Masning)2. Ny. Atmo (Dasminah)3. Ny. Harjo (Supinah)4. Ny. Sumiati5. Ny. Singgih Citrowijoyo6. Ny. Marhaban (Safa’ati)7. Ny. Roasyidin (Makiatun)8. Ilham II. M. Joyodimejo, beristri Puteri M. Kromowijoyo dari Blora, memiliki putera yaitu :1. Abdullah Umar (Prawirodijoyo), Katib pada Kepenghuluan Bojonegoro2. M. Usman (Joyoadibroto), Asisten Kolektur Nganjuk, meninggal di Baureno3. M. Basarun (Prawirodijoyo), Naib kota Blora4. Ibu Aisyah (Ny. Sumowijoyo) meninggal di Blora5. Muhammad Badrun (Harjo Subroto), Manteri Penjual, meninggal di Perak, Jombang6. M. Khoirun (Joyodisastro), Pegawai BPM, meninggal di Cepu7. M. Basyarun (Harjosasmito), Pegawai Listrik, Bojonegoro8. M. Singgih (Citrowijoyo), pegawai BPM, Cepu9. Misatun (Ny. KH. Ahmad Hadi), meninggal di Baureno10. Zulia (Ny. H. Ridwan) Dari keturunan KH. Abdul Jabar telah memiliki organisasi dan silsilahnya ada padanya. Demikian juga demikian keturunan K. Muhammad Taslim/Kebon – Baureno telah memunyai organisasi. Silsilah Keturunan Kiai Muhammad Taslim + Muti’ah Kiai Muhammad Taslim memiliki 6 (enam) orang putra, yaitu :1. Fatimah + Suhada’2. Faizah + Muhammad3. Khadijah + ‘Umar Amir4. ‘Aisyah + ‘Abdullah Umar5. Muqarrib + Ramlah6. Ibrahim (Palang) Dari enam orang putera tersebut memiliki keturunan sebagai berikut :I. Fatimah + Suhada’
- Rasyidah (Kebon), yang memiliki keturunan :
a. Rasyid (Kebon), yang berputera :a.1. Muhammad Thaha (…)a.2. ‘Adnan (Jenar)a.3. Siti Maryam (Kebon)a.4. Nurhadi (Babat)a.5. Mashadi (Kebon)a.6. Mastifah (Jipang)b. Muhammad Malik (Kebon)c. Rais (Kebon), yang berputera :c.1. Muthmainah (Kebon)c.2. Mazinah (Babat)c.3. Nurhadi (Kebon)c.4. Juwariyah (Kebon)c.5. Ghufran (Kebon)d. Muthmainnah (Kebon)e. Faqih (Bulungan)e.1. Suhari (Tuban)e.2. Muntari (Jenu)e.3. Muchtar (Jenu)e.4. Masfu’ahf. Rahmah (Kebon)f.1. Siti Basarah (Klutuk)
- Masfua’ah (Banjaran), yang berputera :
a. Sahid (Banjaran), yang berputera :a.1. Khalil (Bangkil)b. Sa’idah (Banjaran)b.1. Zainudinb.2. Ahmad Zubairc. Fatimah (Banjaran)d. Umi Maisarah (Banjaran), yang berputera :d.1. Bukhari (Banjaran)d.2. Sofyan (Bojonegoro)d.3. Masfu’ah (…)d.4. Musri’ah (Banjaran)d.5. Samsudin (Klutuk)d.6. Ma’shum (Lamongan)e. Dahlan (Banjaran), yang berputera :e.1. Muzayin (Banjaran)
- Safurah (Kapas), yang memiliki keturunan :
a. Umi Kultsum (Kapas)b. Zakaria (Kapas)c. Ahmad Ja’far (Kapas), yang berputra :c.1. Muntamah (Kalimantan)c.2. Masfu’ah (Kapas)c.3. Kadri (Kapas)c.4. Maimunah (Tuban)c.5. Aminah (Tuban)c.6. Halimah (Tuban)c.7. Hafsah (Tuban)c.8. Tiyana (Tuban)d. Fadhil (Kabunan), yang memiliki keturunan :d.1. Ma’inah (Kabunan)d.2. Marhamah (Kapas)d.3. Munawarah (Balen)d.4. Yasin (Kabunan)e. Thayib (Kapas)f. Latifah (Kapas), yang memiliki putera :f.1. Halimah (Bangil)f.2. Ramlah (Kapas)f.3. Hindun (Madiun)f.4. Maunah (Kapas)f.5. Niswatun (Kapas)
- Shafiyah
- Marfu’ah (Bangil), yang memiliki keturunan :
a. Khalisoh (Bangil), yang memiliki putera :a.1. Khalil (Bangil)b. Syafa’at (Kepoh Baru)
- Ifrasyim (Kebon) yang berputera :
a. Shafwan (Kebon)b. Hasanah (Kebon), yang memiliki keturunan :b.1. Mas’amah (Waru)b.2. Adnan (Kebon)c. Zalikhoh + Badrun (Payaman), memiliki putra :c.1. Niswatun (Payaman)c.2. Adnan (Payaman)c.3. Ni’mah (Tuban)c.4. Farhan (Payaman)c.5. Fauzan (Payaman)c.6. Fathurrahman (Karangasem)c.7. Muslihah (Karangasem)c.8. Fadli (Payaman)d. Marfu’ah, memiliki satu putri :d.1. Shalihah (Ngampal)e. Abdul Muhaimin (Kebon), yang memiliki keturunan :e.1. Badi’ah (Kebon)e.2. Zuhriyah (Karangasem)e.3. Hafid (Kebon)e.4. Mahfudz (Kebon)e.5. Shafwan Hadi (Kebon)e.6. Khafi’ahe.7. Arifine.8. Insiyahe.9. Mujibf. Mahromah (Kebon)g. Muzayyin (Kebon), Yang memiliki keturunan :g.1. Muhtaram (Kebon)g.2. Muhlishah (Kebon)g.3. Maftuh (Kebon)g.4. Hidayah (Kebon)
- Ra’isyah (…), yang berputera :
a. Badrun Payaman)b. Masrifah (Bojonegoro), yang berputerab.1. Samunah (Bojonegoro)b.2. Muslimah (bojonegoro)b.3. Maisrah (Bojonegoro)b.4. Musriah (Bojonegoro)b.5. Masfu’ah(Bojonegoro)b.6. Maftuhah (Bojonegoro)b.8. Masduki (Rengel)b.9. Masruhan (Bojonegoro)c. Umi Kultsum (Rengel), yang memiliki putera :c.1. Hidayat (rengel)c.2. Tutik (Rengel)c.3. …d. Nurhadi (Payaman)d.1. Umi (Kebon)d.2. Muhin (Payaman)d.3. Akib (Payaman)d.4. Fakiha (Payamane. Muntamah (Bojonegoro)
- Qamariyah (Kebon), yang memiliki keturunan:
a. Syatibi (Jenar), yang memiliki putera :a.1. Abdul Ghafur (Tuban)a.2. Saifudin (Jenar)a.3. Suhud (Jenar)a.4. Muhibah (…)b. Mutamimah (Kebon)c. Mutahharah (Kebon), yang berputera :c.1. Samsiyah (Kepohbaru)c.2. Khairah (…)c.3. Mujtahidah (Karangasem) d. Mudhaffir (Kebon)II. Faizah + Muhammad1. Abdullah – Pasinan, yang berputra :a. Ahmad Ja’far (Pasinan)b. Muqaddas (Pasinan)c. Siti Fatimah (Pasinan)d. Halimah (Jati)e. Misbah (Pasinan), memiliki putera :e.1. Sadeli (Pasinan), yang berputera : e.1.1. Umi Kultsume.2. Shalihin (Montong), yang memiliki putera : e.2.1. Ulya e.2.2. Faride.3. Khairul Anam (Widang), yang berputera : e.3.1. Rizae.4. Maskunah (Sumberrejo), yang memiliki putera : e.4.1. M. Nur Fajri Alfata e.4.2. Fitrotin Najizahe.4.3. Faishal Miladi Ahmade.5. Yasa’ (Pasinan) e.5.1. Doni e.5.2. Ilfif. Marfu’ah (Rengel)f.1. Abdul Halim (Rengel)f.2. Ahmad Syairazi (Rengel)f.3. Umi Taslimah (…)f.4. Masrifah (Majenang)g. Nurhadi (Surabaya)h. Syuhada’ (Jati)2. Umi Kultsum – Kebun, yang berputera :a. Muhammad Aminb. Afifah (…), memiliki putera :b.1. Ahmad … (…) c. Ahyatd. Mahmudah + Ra’is (Kebon)e. Badrul Anam (Kebon), memiliki keturunan :e.1. Afif (Sulawesi)e.2. Afifah (Surabaya)f. Masfiyah (Dunganti), memiliki keturunan :f.1. Masitah (Dunganti)f.2. …g. Abdurrahman (Surabaya)g.1. Zaki (Bali)g.2. Zakiah (Surabaya)g.3. Umi Kultsum (Surabaya)g.4. Shalihah (Surabaya)h. Abdurrahim (Kebon), yang memiliki putera :h.1. Ismah (…)g.2. Halimah g.3. Amri (Kebon)g.4. Arham (alm)g.5. Saifullah (Kebon)g.6. Wahib (Kebon)g.7. Ghazi (Kebon)3. Abdul Muchid – Palang, yang berputera :a. Khadijah4. Hindun, yang berputera :a. Badrul Anamb. Ahyatc. Amin5. Syarif – Sendang, yang berputera :a. Khadijah (Balen), berputera a.1. Muhammad …a.2. Hafsah (Balen)a.3. Muhammad … (Surabaya)a.4. Wiwik (Surabaya)b. Umi Kultsum (Baureno), memiliki putera :b.1. Abdullah Umar (Babat)b.2. Umi Hanik (Baureno)c. Muhammad Ma’shum –alm (Madiun), memiliki putera :c.1. Nafi’ah (Jakarta)c.2. Hidayat (Madiun)d. Qamariyah (Jati)e. Solehf. Abdul Malik (Kertosono), memiliki keturunan :f.1. Tutik Inayah (Kertosono)f.2. Abdul Harits …(Kertosono)f.3. M. Amin Kurniawan (Kertosono)f.4. Anik Mutmainah (Kertosono)6. Abdurrahman, 7. Ra’isah – Payaman, yang berputera :a. Badrunb. Masrifah (Bojonegoro)c. Umi Kultsum (Rengel)d. Nurhadi (Payaman)e. Muntimah (Bojonegoro)8. Qamariyah – Kebon, yang berputera :a. Syatibi (Jenar)b. Muthahharah (Kebon)c. Mutamimah (Kebon)d. Mudhafir (Kebon)III. Khadijah + ‘Umar Amir, yang berputera :1. Masfu’ – Kebon, yang berputera :a. Syatibi (Jenar), memiliki putera :a.1. Abdul Ghafur (Tuban)a.2. Saifuddin (Jenar)a.3. Suhud (Jenar)a.4. Habit2. Habib – Singapura, yang berputera :3. Ma’inah – Jenar, yang berputera :a. Musri’ah (Kebon)b. Siti c. Asiyah (…)d. Faqih (Babat), memiliki putera :d.1. Sofyand.2. Nafi’ahd.3. Muhammad Yasind.4. Atind.5. Adi4. Muslimah – Kebon, yang berputera :a. Mochtar (Jenu), memiliki putera :a.1. Abdul Khalik (Jenu)a.2. … (Tuban)a.3. Muhtadi (Jenu)a.4. Muhin (Jenu)a.5. Lilik (Jenu)b. Khudori (Kebon)c. Marzuki 9Kebon)d. Sayyid Kunin (Kebon)e. Hajarf. Imamah (Kebon)g. Muzammil (Kebon), memiliki keturunan :g.1. Munirg.2. Making.3. Afifahg.4. Malirahh. Masrifah (Kebon), memiliki putera :h.1. Ma’shumh.2. Mansyur (Bangilan)h.3. Musli’ah (Kebon)i. Mazinah (Kebon), memiliki keturunan :i.1. Yasin (Bangilan)i.2. Khatimah (Brangkal)i.3. Masfu’ (Kebon)i.4. Habib (Tulung)i.5. ‘Aisyah (Kebon)i.6. Muniyatun (Kebon)5. Shafiyah – Sroyo, yang berputera :a. Ihwan (Sroyo)b. Muthallib (Sroyo)c. Najih (Sroyo)d. ‘Aisyah (Sroyo)e. Fatimah (Sroyo)f. Umi Kultsum (Sroyo)6. Siti Juwariyah – Dunganti, yang berputera :a. Shafwan (Dunganti)b. Sukri (Dunganti)c. Imam (Dunganti)d. Muthma’inah (Dunganti)e. Umi Kultsum (Dunganti)7. Yasin – Kebon, yang berputera :a. Hamim (…), memiliki putera :a.1. Muhyidin (…)a.2. Nadhir (…)a.3. Nadhirah (…)a.4. Muhib (…)a.5. Mufidah (…)b. Ahyar (Kebon)c. Maimunah (Plumpang), memiliki keturunan :c.1. Maimunc.2. Abduhc.3. Musta’inc.4. Nafsadc.5. Mahrus c.6. Khalifah c.7. Ismah c.8. Dzikrullahd. Khairul Anam (Kebon), memiliki putera :d.1. ‘Aisyahd.2. Sirajuddind.3. Yasind.4. Mufrihahd.5. Taslime. Nikmah (Kebon)f. Khairiyah (Brangkal), memiliki keturunan :f.1. Abdul Ganif.2. Ramzahf.3. Bashirahf.4. Khazinf.5. Dewaf.6. Gufranf.7. Afifahf.8. NurjanahIV. ‘Aisyah + ‘Abdullah Umar1. Sabi’ati, yang berputera :a. Sadeli (Laju)b. Hayat (Gajah)c. Jufri (Gajah)2. Khalil – Kebon, yang berputera :a. Siti Asiyah (Kebon)b. Ahmad Ghazali (Kebon)c. Dewa (Kebon)d. Rofi’ah (Balen)e. Sa’dullah (Kebon), memiliki putra :e.1. Yazid e.2. Umie.3. Zamronie.4. Sa’diyahf. Abdul Aziz (Kebon)g. Miftahul Arifin (Kebon), memiliki keturunan :g.1. Wahyuding.2. …Khalilullahg.3. Isti’adahh. Husnul Khatimah (Kebon)3. Muslihah – (…), yang berputera :a. Juwairiyah (Wonokerto), memiliki putra :a.1. Yasira.2. Aminaha.3. Mahfuda.4. Mashudi b. Muhammad Ghufran (Wonokerto), memiliki putra :b.1. Muflihahb.2. Masruhahb.3. Abdul Ganib.4. Masruhanb.5. Muslihahb.6. Musbihahb.7. Mas’ulahb.8. Muslimahc. Saidah (Wonokerto), memiliki keturunan :c.1. Mahfudc.2. Sa’dullahc.3. Asiyahc.4. Zubaidahd. Maskur (alm)e. Masfu’ah (Wonokerto), memiliki putra :e.1. Abdurrahime.2. Abdul Gofure.3. Muhirahe.4. Abdul Malikf. Ahmad Marzuki (Wonokerto), yangberputra :f.1. Muhammad Afifuddinf.2. Umi Azizahf.3. Muhammad Husnurrafiqf.4. Lathifah Nafsiyahf.5. Masrurahf.6. Muhammadf.7. Hakimahf.8. Agus Ahmad Fahimg. Muhammad Syafi’ (Wonokerto), memiliki keturunan :g.1. Mashudg.2. Mashurig.3. Mas Ma’lumahg.4. Abdullahg.5. Laqiyahg.6. Ning Habibah4. Mujtabi – Sumlaran, yang berputera :a. Mudhafir (Karang kambang)b. Fathurrahman (Karang kambang)c. Mujari (Karang kambang)d. Khairul Anam (Karang kambang)e. Sabi’ati (Lkarang kambang)f. Shalihah (Karang kambang)g. Mahsun (Karang kambang)5. Muntaqa - …, yang berputera :a. Muhammad Ihsanb. Nasuh (…)c. Imran (Jenu)d. ‘Aisyah (…)e. As’ary (solo)f. Mu’alimah (Gresik)g. MujibV. Muqarrib + Ramlah1. Hafisah, yang berputera :a. Jamilahb. Sarbinic. Ma’rifahd. Mashud2. Haris, yang berputera :a. Siti Shafiyah3. Mariah, 4. Khairah, 5. Yahya – Madiun, yang berputera :a. Siti Asiyah6. Masinah, 7. Siti Asiyah,8. Ismail – Surabaya, yang berputera :a. Siti Juwariyah (Surabaya)b. Muhammad Hanafi (Tuban)c. Siti Ralihah (Surabaya)VI. Ibrahim (Palang)VII. Mahbub (…),yang berputera :1. Idris (…)2. Mutamimah (…)3. Siti Rahmah (Babat)4. Muhammad (Bangilan)
Puisi Untuk Pak Koes
•Januari 21, 2008 • Tidak ada Komentar
Orang bilang, sastra adalah media penghalus budi. Sastra menyentuh sisi lain dari diri manusia. Sisi lain itu adalah jiwa, kalbu, dan hati nurani. Dalam sebuah peziarahan ke Yogyakarta baru-baru ini (19 Januari 2008), disebuah toko buku kutemukan orbituari tentang Pak Koesnadi Hardjasoemantri, orang yang lewat perjumpaan singkat dengannya telah membuatku mencintainya, meninggalkan rekaman sejarah berharga yang ga mungkin terulang. Seorang Guru, Resi, Teladan, seorang Kakek yang bersahaja dan rendah hati. Orang yang akan selalu kukenang dalam hati. Dalam bagian akhir orbituari tersebut, terdapat puisi-puisi yang dipersembahkan untuk mendiang dari para sahabat dan semua yang mencintainya. Tiap baris, tiap bait yang kubaca membawaku pada perjumpaan dengan beliau yang begitu berkesan, meskipun begitu singkat. Begitu larut dalam tiap bait puisi, bulir-bulir air mata jatuh tak tertahan. Rasa rindu bercampur haru, menguasai diri.
Aku akan selalu merindukannya
Aku akan selalu menghidupkannya dalam hati
Mendalami, meresapi, dan menjalankan ajaran-ajarannya
Karena dengan itulah dia akan selalu hidup
Untuk kesekiankalinya aku merasa kehilangan
Sampai harus menangis menahan rindu dan haru
Terima kasih Pak Koes…
Inilah persembahan dari para sahabat dan orang tercinta itu:
Disela-sela sayap ikan Pari:
In Memoriam Koesnadi Hardjasoemantri (1926-2007)
(Oleh Eka Budianta)
Dari sela-sela sayap ikan pari
pada suatu sore di akhir tahun
kulihat wajahnya bercahaya
Dengan kata-kata yang jernih
ia mengisi langit seribu bulan,
mendamaikan gunung dan samudra
Dari sela-sela sayap ikan pari
yang berseliweran di akuarium raksasa
kulihat Koesnadi, 80 tahun bersuara
Candi Borobudur tiba-tiba melintas,
rakyat jelata yang menunggu,
daun-daun menjanjikan hidup baru
Dari sela-sela sayap ikan pari,
kulihat hatinya menarikan Indonesia
lagu yang ikut digubah partiturnya
Bersama perbukitan selatan Pulau Jawa
dengan teluk dan selat kesayangan
Koesnadi telah bergerak dan bersuara
Dari sela-sela sayap ikan pari,
kita belajar terbang dengan merdeka
seperti Koesnadi memberikan hidupnya
Sajak Sederhana Buat Pak Koesnadi
(Oleh : Mustofa Bisri)
Begitulah sabda NabiMu,
Allah tidak merenggut ilmu
dari dada-dada
mereka yang berilmu
Tapi dengan mencabut nyawa
hamba-hamba yang dititipiNya ilmu
Semoga kepergianmu, Pak Koes
Bukanlah Tanda
lenyapnya ilmu
Dan orang-orang pun
Mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh
dan gagu
yang sesat dan menyesatkan
Sebab kepergianmu, Pak Koes
Telah meninggalkan murid-murid
yang insya Allah mampu
menyemaikan benih-benih ilmu
yang engkau tinggalkan
Pagi itu Engkau Pergi:
Kepada Profesor Koesnadi Hardjasoemantri
(Oleh: HM. Nasruddin Anshory Ch)
Guru, benarkah engkau telah pergi?
Kata-kata itulah yang terus kuucapkan sepanjang malam
Dalam gemuruh tadarus di gunung batu
Bersama ribuan pohon jati
Yang menjeritkan suara hati
Seribu gunung turut tafakur
Daun-daun mangga, mahoni, danakasia
Siap-siap bergugur
Mengiringi doa dan air mata
Agar kelak tumbuh tunas-tunas baru
Sebab sejak kecil telah terpahat petuah Ibu
Bahwa di seberang maut
Juga ada taman-taman rindu
Pagi itu, ya, pagi itu
Langit biru di atas Yogya makin membiru
Ketika beribu bunga, kabar duka dan harum cendana
Telah mengguratkan garis takdirnya
Guru,
isyarat itu telah datang padaku
Sebelum burung besi itu mengantarkan kepergianmu
Seorang lelaki berjubah putih
Telah kembali pada kemudi
Masih hangat sajadah terakhir mencatat
Keningmu yang basah air wudhu
Di subuh itu
Menaburkan wangi syahadat
Pohon-pohon cendana yang kau tanam itu
terus tumbuh
Menerjemahkan hidup dan keharuman
Tanpa harus berkeluh
dan bukkit-bukit tandus itu
Seakan sedang berdandan
Dengan warna hijau dan wangi keringat petani
Bagaimana harus kutafsirkan hidup
Jika nafas harus sekeras cadas?
Bagaimana akan kuterjemahkan dahaga
Jika seluruh air sungai telah menjelma sampah dan tinja ?
Titipan
(Oleh: WS Rendra)
Seringkali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya, tetapi
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
aku ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah… semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah… keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”
(Dipersembahkan untuk mengenang Kawanku, Sahabatku, Guruku,
Orangtuaku, Pimpinanku Pak Koesnadi)
Senyum Itu Pergi
(Oleh: D. Zawawi Imron)
Ia disemayamkan di Balairubf
Orang-orang berkumpul untuk menghormatinya
Dengan haru yang utuh
Hutan kecil Bulaksumur depan gedung itu ikut sembahyang
ketika jenazah disalatkan
Memang saat hidupnya jenazah itu,
Sering merasa bersalat dalam hutan
Berjamaah dengan jutaan pohon
Karena itu burung-burung berdatangan
Untuk melayat dan mengucapkan tahlil terakhir untuknya
Seakan taka da kefasihan yang bisa menampung
kedalaman rasa sayang yang bercampur duka
KEfasihan ada yang berupa setetes air mata
Dan paling tidak meleleh dalam dada
Dan aku tahu
burung-burung itu tidak berbasa-basi
Seperti sebagian manusia
Sebagaimana kematian pun bukan basa-basi
Bahkan bukan kebetulan
karena selembar daun kering
tidak akan gugur ke bumi tanpa izin Allah
Jenazah itu pasti tersenyum
Karena merasa mendapat anugerah
untuk menemukan “kesejatian”
secara tak terduga
Orang-orang boleh memandangnya sebagai malapetaka
Ia pergi ke sebuah alam baru
Yang tak penting lagi barat atau utara
Di sini pun bersujud untuk meraup makna
“karena itu, selamat jalan Pak Koes!
Selamat bertemu dengan rumah hakikat
habitatmu yang bukan mimpi
yang dulu kaupesan sambil melangkah
membetulkanmata angin
sambil mengajar anak-anakmu tersenyum
kepada hutan,
sungai,
pasir,
dan terumbu
Kaulah yang mengajarku
bahwa setangkai mawar tidak lebih mulia
daripada segenggam rumput yang rela dikunyah
anak domba yang kelaparan”
Kami kepunyaan Allah
Dan kepada Allah kami akan kembali
Semua akan mencatat
kepergian jenazah itu begitu indah
begitu khidmat
sehingga angin cepat berpencaran
kemana-mana
dan bercerita kepada mendung
kepada bukit, batu danlembah
bahwa senyum dan ketenangan itu
telah pergi untuk menemukan cahaya
Tapi senyum itu sekarang
seakan masih tertinggal di bumi
terbayang pada daun-daun
Bahkan sesekali seperti mengintai
dai balik tirai langit yang bairu
Pak Koes,
telah kau sempurnakan senyummu
Senyum yang terasa belum selesai
dan belum selesai
Anak-anakmu yang setia
pasti melanjutkan senyummu
Amin!
Antara Hidup dan Mati
•Januari 16, 2008 • 1 KomentarJika kau belum pernah merasakan berada antara hidup dan mati, maka percayalah bahwa benar kata Nabi, rasanya menyakitkan sekali, seperti disayat-sayat oleh ratusan, bahkan ribuan pedang. Beberapa waktu yang lalu, aku merasa berada antara ada dan tiada, antar hidup dan mati. Bahkan untuk sesaat aku merasa “well then, may be this is my last time life in this fucking world”. Untuk sesaat aku percaya bahwa Tuhan begitu merindukanku, sehingga tidak sabar untuk bertemu denganku.
Ya,,,malam itu tiba-tiba aku diserang sesak nafas yang luar biasa. Sulit sekali untuk bernafas. Bahkan untuk sesaat aku percaya nafasku telah terhenti. Sakitnya luar biasa. Luar biasa. Ada tabung oksigen disampingku, dengan selang yang terpasang di hidung yang harus mendukung pernafasanku. Dengan alat bantu seperti itu saja, pernafasanku masih separuh-separuh. Sakitnya luar biasa. Luar biasa.
Dokter memvonisku asma kronis (atau akut ya, aku lupa)…Oh God, setelah sebelumnya (bulan Juni) aku divonis ginjal dan hatiku rusak, vonis ini seolah-olah kembali membawaku ke jurang keputusasaan. Tuhan, apalagi yang kaumainkan terhadap diriku ini ???
Syukurlah (atau aku harus menyesalinya?) Tuhan masih berkenan menyelamatkan hidupku. Mungkin Tuhan masih sayang padaku, sehingga aku diberiNya kesempatan untuk hidup sekali lagi, agar aku dapat introspeksi dan memperbaiki hidupku yang rusak dan jauh dari keinginanNya. Atau justru mungkin Tuhan murka, sehingga aku diijinkan untuk terus berbuat dosa di dunia lebih lama lagi. Kalau memang harus kusyukuri, maka yang kusyukuri adalah kiriman seorang sahabat untukku. Jauh-jauh datang dari Jombang untuk menghadiri acara pernikahan seorang kawan di Jakarta harus tersita waktu untuk melarikanku ke UGD RS Sarjito. Dan menemaniku. Bahkan untuk biaya Rumah Sakit, dia juga yang menanggungnya. Aku sudah berpikir bahwa akhirnya ada juga seorang sahabat yang menemaniku di saat-sat terakhirku, hehehe…(makasih cup, u’re really best friend ever I had. I don’t know what happen to me if you weren’t there).
Kalau ada yang harus kusesali, bukanlah bahwa Tuhan menunda kematianku. Aku yakin Tuhan Maha Bijaksana, dan pasti punya rencana yang terbaik untukku. Tetapi yang kusesali, kemanakah kalian wahai orang-orang yang mengaku sebagai sahabat? Apakah seperti itu bentuk persahabatan yang kalian tawarkan kepadaku? Kemana kalian saat seharusnya aku butuh kalian? Lebih menyakitkan lagi, selama bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama dengan banyak mimpi indah tentang persahabatan, tetapi ketika aku sekarat hanya seorang sahabat yang menemaniku. Sakit.
Tapi, seperti kata pepatah, kecewa hanya ada ketika kita banyak berharap. Dan aku salah ketika berharap pada kalian.
Memang, persahabatan mestinya dilandasi ketulusan dan altruisme, tanpa berharap apa-apa. Dalam konteks inilah saya melakukan kesalahan. Tetapi, kenapa kalian tidak memberikan ketulusan itu padaku? Ah, saya kembali kepada keyakinan lama, bahwa tidak ada ketulusan di dunia ini.
Kamase Go Internasional
•Desember 11, 2007 • Tidak ada KomentarPagiku disambut dengan berita hangat dan menyenangkan. Kamase memulai debut manis di dunia Internasional dengan menyabet best ten dalam “kontes” penelitian ilmiah di Mumbai, India. Acara yang disponsori PBB dan Daimler-Chrysler itu mempertemukan dua budaya yang berbeda, dari developed country and developing country. Kamase, tim dari Indonesia berpartner dengan tim dari Curtin University, Australia. Terlepas dari adanya KKN (tim dari Curtin salah satunya mahasiswa dari Indonesia) dalam persekongkolan ini, tapi prestasi ini terasa sangat luar biasa. Luar biasa, karena aku ga pernah membayangkan bahwa apa yang kumulai 5 - 6 tahun lalu itu kini membuahkan prestasi yang gemilang. Meskipun saat ini aku (alumni) Kamase, tetapi apa yang mereka raih membuatku bangga luar biasa.
Keep moving forward guys…i’m proud of u…
Hidup Kamase, Hidup Energi Terbarukan, dan Jayalah Negeriku….
Negeri Anarkis
•Desember 10, 2007 • Tidak ada KomentarEntah apa yang terjadi dengan negeri ini. Seolah-olah tidak ada yang menyenangkan jika kita membicarakan negeri ini. Indonesia, yang katanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta raharjo, justru seperti menunjukkan paradox of plenty dengan sangat kasat mata, suatu kenyataan yang ironis sebenarnya. Cerita-cerita yang tidak menyenangkan itulah yang terlontar dari mulut kawan-kawan dalam sebuah obrolan pagi di kantin kantor. Cerita dari masalah yang sangat kecil, sepele, hingga masalah yang masuk kategori “besar”.
Lihat aja di bunderan Cibiru, disana banyak kendaraan berhenti (padahal bukan tempat kendaraan berhenti), kemacetan terjadi, semrawut, preman banyak yang malak kondektur bus didepan mata anggota Polisi. Apa gunanya polisi disitu ? eh..”jangan salah, preman disana juga setor pada polisi disitu”, kata seorang kawan. Rupanya telah terjadi simbiosis mutualisme disana. Kendaraan umum ngetem seenaknya dipinggir jalan, kemacetanpun tak terelakkan. Pengendara motor jalan lewat trotoar yang membahayakan jalan. Trotoar yang mestinya untuk pejalan kaki, digunakan toko PKL. Susahnya, ketika mereka digusur, mereka berdalih telah dapat ijin dari pihak yang berwenang karena telah membayar sejumlah uang tertentu. Nah lho…
Bagaimana peraturan di bandara dikalahkan oleh sekelompok massa (tukang ojek), sehingga banyak tukang ojek berkeliaran di sekitar bandara yang seharusnya dilarang. Banyak taksi argo mulut berkeliaran disekitar bandara karena selingkuh dengan petugas keamanan bandara, bagaimana barang-barang bagasi dengan seenaknya masuk pesawat hanya dengan sedikit sogokan kepada petugas (padahal overload dapat menyebabkan kecelakaan pesawat). Perjudian dan perzinahan yang sialnya dilindungi “oknum” aparat. Flu burung yang ga pernah tuntas (Indonesia peringkat pertama dalam hal penanganan flu burung terburuk didunia). Sampai pada masalah jual beli kasus, mafia peradilan, ketidakadilan social, tersangka korupsi yang justru diangkat sebagai calon hakim agung (Prof. Ahmad Ali), kebakaran hutan dan ekspor asap, illegal logging, pengerukan sebagian pulau di Kep. Riau untuk dijual pada Singapura degan seijin Pemda, dan entah kasus apalagi yang ga bisa dihitung dengan jari.
Lebih enak hidup di Indonesia daripada di AS, kata seorang kawan. Yang pertama, Indonesia negeri yang sangat liberal. Gimana tidak, disini mau ngapain aja terserah. Mau ngrokok ditempat umum, silakan. Mau buka toko, monggo. Pokonya serba bebas. Kalau di AS, mau bikin warung aja harus ada ijin. Ada sertifikasi untuk barang yang dijual sehingga aman dan layak dikonsumsi masyarakat. Mau ngrokok ga boleh ditempat umum. Yang kedua, kalau di AS ngurus segala sesuatu, seperti KTP, SIM, kartu jaminan harus sendiri. Tapi di Indonesia, bisa dititipin lewat jasa calo. Kawanku sambil ketawa…Kalau itu sih bukan liberal, tapi anarkis.
Benarkah negeri ini sedemikian anarkis ? sebenarnya tidak, kalau definisi normatif dari anarkis kita gunakan secara konsisten. Di Indonesia, sudah banyak peraturan yang dibuat. Tetapi masalah ada pada implementasi yang lemah. Yah,,,itu kan sama saja dengan anarkis, kata seorang kawan lagi. Kita memang pandai membuat aturan, tapi kita juga pandai menyiasati dan mencurangi peraturan tersebut.
Ah entahlah, mungkin benar kata kawan tersebut. Negeri ini memang benar-benar anarkis. Kalau kita gunakan metafora Quranik, seandainya pohon di seluruh dunia kita jadikan pena dan lautan kita jadikan tinta, mugkin tidak akan cukup untuk menuliskan masalah-masalah yang menimpa negeri ini. Hehehe….
Di Balik Cerita Sejarah
•Desember 6, 2007 • 7 KomentarAda banyak versi ketika berbicara tentang Syech Lemah Abang alias Syech Siti Jenar. Ada yang melihat dari sudut pandang konflik antarmahzab, antara ‘ulama fiqh dengan ‘ulama tasawuf. Ada yang melihat dari sudut pandang politik. Bahkan ada yang meragukan sosok Syekh Siti Jenar sebagai sosok sejarah, dan hanya mitos belaka. Tak heran bila kemudian cerita tentangnya sangat simpang siur, bahkan cnderung mengalami mistifikasi.
Ternyata ada versi lagi dari sejarah tersebut. Syekh Siti Jenar seorang ‘ulama Syi’ah dan berusaha untuk mendirikan kerajaan Islam Syi’ah merdeka dari Demak. Inilah yang mendasari konflik antara Wali Sanga (yang pro-Demak) dengan Syekh Siti Jenar yang menjadi pendukung utama Kebo Kenanga yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Demak dan mendirikan kerajaan Pengging yang beraliran Syi’ah. Akibat konflik tersebut jelas, yaitu pihak Pengging mengalami kekalahan telak, dengan kematian Kebo Kenanga di tangan Sunan Kudus, dan ditangkapnya Syekh Siti Jenar oleh kerajaan Demak.
Syekh Siti Jenar-pun diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan makar (bukan karena menyebarkan ajaran wahdatul wujud). Masalahnya tidak berhenti hanya sampai disini saja. Akibat pemberontakan tersebut, Sunan Gunung Jati dan Wali Sanga berencana untuk menumpas dan membinasakan pengikut Syi’ah. Tapi rencana ini dicegah olah Haji Abdullah Iman alias Walangsungsang (Wong Ageung Cirebon Seuwue Siliwangi), dengan alasan bahwa pengikut mahzab Syafi’i dan Syi’ah di Cirebon sama banyak, sehingga semua berhak untuk menganut mahzab yang diyakininya.
Untuk meredam gejolak pengikut Syekh Siti Jenar yang banyak, maka makam Syaikh Lemah Abang dipindahkan dari Kemlaten ke kompleks makam keluarga kraton di Gunung Sembung. Untuk membina para pengikutnya yang berjumlah banyak, Sunan Kalijaga ditugaskan untuk menggantikan Syekh Siti Jenar, sehingga ia beralih mazhab dari Hanafi menjadi Syi’ah.
Dari sejarah versi diatas, ada tiga hal yang menarik. Yang pertama adalah bahwa pendapat bahwa Syekh Siti Jenar adalah ‘ulama Syi’ah. Beliau memang dikenal sebagai seorang sufi, tapi bahwa Syekh Siti Jenar seorang bermahzab Syi’ah perlu dibuktikan kebenarannya. Kalaupun ini benar, maka ini merupakan fenomena yang menarik yang mungkin bisa menjelaskan corak hubungan antara mahzab Sunni dan Syi’ah di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.
Yang kedua, peralihan mahzab dari Hanafi ke Syi’ah oleh Sunan Kalijaga. Terlepas dari benar tidaknya kesyia’ahan Sunan Kalijaga, setidaknya fenomena perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa. Bukan hanya antarmahzab Sunni, bahkan antara mahzab Sunni dan Syi’ah. Seperti yang ditulis oleh Quraish Shihab dalam bukunya Sunni – Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah ?, menyebutkan titik-titik perbedaan dan persamaan antara Sunni – Syi’ah yang pada intinya tidak keluar dari koridor Islam, sehingga semestinya antara Mahzab Sunni dan Syi’ah dapat tercipta persaudaraan, tidak harus terjadi permusuhan sehingga harus saling menumpas dan membinasakan seperti apa yang direncanakan oleh Wali Sanga di masa lampau. Sehingga perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa dan tidak perlu dipermasalahkan, seperti yang dicontohkan oleh Sunan Kalijaga.
Yang ketiga, jika Kebo Kenanga murid Syaikh Lemah Abang adalah seorang Syi’ah, apakah anaknya, Mas Karebet alias Jaka Tingkir juga seorang penganut mahzab Syi’ah. Kenapa hal ini begitu penting?. Karena aku perlu tahu apakah aku memiliki nenek moyang bermahzab Syi’ah. Di lingkungan keluarga besarku (dari pihak Ibu) ada kepercayaan/keyakinan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang, yaitu Jaka Tingkir alias Mas Karebet, yang makamnya belakangan kuketahui ada di Lamongan (itulah kenapa Persela Lamongan dijuluki Laskar Jaka Tingkir). Jika memang benar Mas Karebet bermahzab Syi’ah, maka secara tidak langsung (dan jauh) aku memiliki darah mahzab Syi’ah, hehehe….
Mengenang Prof. T. Jacob
•Desember 5, 2007 • 1 KomentarSaya benar-benar kaget ketika mengetahui bahwa Prof. Teuku Jacob telah tiada dua bulan yang lalu (17 Oktober). Saya mengetahuinya dalam kolom pojok Kompas yang memuat berita kematian seorang guru besar antropologi UI Prof. Suparlan, yang disebut meninggal dalam kesendirian dan kesunyian seperti yang dialami oleh Prof. T. Jacob. Aneh, disaat arus informasi sedemikian cepat, saya baru mengetahui berita lelayu ini 2 bulan setelahnya.
Pertemuan dengan tokoh-tokoh seperti Prof. Teuku Jacob selalu istimewa. Pertemuan itu terjadi hanya 2 jam di rumah beliau, di Sekip Yogyakarta, saat saya menjadi Steering Committee HPTT ke-56 Fsayaltas Teknik UGM. Kesan pertama terhadap beliau adalah bahwa beliau orangnya perfeksionis. Dan karena sifat perfeksionis tersebut saya harus kena damprat. Seorang teman (perempuan) menelpon beliau minta ijin untuk ketemu. Ketika beliau melihat yang datang adalah saya, beliau bilang :”Kemarin yang menelpon perempuan, kok yang datang laki-laki”, sergah beliau tanpa memersilakan duduk lebih dulu. Terus selama dua jam saya “dikuliahi” tentang profesionalisme, intelektualitas, logika –beliau marah-marah ketika saya mengucapkan kata-kata yang secara logika rancu, dan kata itu adalah “terkait”, kemahasiswaan –yang menurut beliau sekarang kualitas mahasiswa sangat rendah, kemanusiaan –sambil menceritakan ide dan gagasan beliau dalam pembangunan kampus UMS terpadu yang “manusiawi” dan “integratif” serta mengembalikan konsep universitas kepada asalnya. Dan kita banyak diskusi tentang seminar tersebut hari itu, tetang tema dan pembicara seminar, tentang arah, tujuan dan sasaran seminar, bahkan berbicara tentang kondisi bangsa secara umum. Benar-benar diskusi yang menarik. Bukan karena tema diskusi, tapi karena penempatan beliau yang menyejajarkan diri dengan saya yang hanya mahasiswa biasa ini (perlsayaan yang sama pernah saya dapatkan ketika bertemu Prof. Kusnadi Harjasumantri). Diakhir pertemuan tersebut beliau memberi komentar kepadsaya, “jarang ada mahasiswa yang mampu bertahan berhadapan dengan saya selama ini”. Tentu saja saya anggap sebagai pujian, dan saya bangga dipuji oleh orang sekelas Prof. Teuku Jacob.
Prof. T. Jacob merupakan salah satu ilmuwan bangsa generasi pertama Layaknya ilmuwan generasi pertama, hidupnya sangat sederhana, komitmen yang tinggi terhadap ilmu yang ditekuninya, yaitu Paleoantropologi (ini mengherankan, karena beliau adalah seorang dokter tetapi membenci darah). Istilah ekstrimnya, buku-buku menjadi istri pertamanya. Inilah tipologi ilmuwan sejati, bukan ilmuwan salon. Beliau adalah ilmuwan generasi pertama yang meneliti Pithecantropus erectus. Beliau pernah menjabat Rektor UGM periode 1981 – 1986, tepat sebelum Prof. Kusnadi Hardjasumantri menjabat.
Karena komitmennya terhadap ilmu yang ditekuninya, banyak yang mengatakan beliau menjalani semacam asketisme intelektual. Sengaja menjauhkan diri dari hiruk pikuk kehidupan luar kampusnya, tidak peduli dengan dunia di luar ilmu yang ditekuninya, semacam sosok di menara gading kehidupan. Tapi menurutku itu tidak benar. Menjauhkan diri tidak berarti beliau tidak mengerti dan tidak peduli pada kehidupan diluar dirinya. Banyak tulisan-tulisan beliau di media massa, baik local (seperti Kedaulatan Rakyat) maupun nasional, membuktikan bahwa beliau sangat memahami persoalan hingga ke intinya. Dan masyarakat selalu menjadi perhatian utama beliau. Bukankah itu salah satu bentuk kepedulian beliau terhadap edukasi masyarakat ?
Mungkin benar, bahwa tipologi ilmuwan generasi pertama sangat mencintai ilmunya melebihi cinta pada dirinya se
