Apa yang pernah dulu kita impikan bersama, cita-cita, harapan, dan hasrat untuk menjadikan Kamase sebagai lembaga kemahasiswaan yang besar, saat ini sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan wujudnya.
Momentum datang, dan Carpe Diem!!!…Kamase Goes to Mumbai and became major winner in Mondialogo Engineering Award (MEA). Berturut-turut Kamase diundang itu berbicara dalam berbagai seminar/simposium, baik yang skala lokal, nasional, maupun internasional.
Semua ini menjadi hal yang membanggakan, termasuk bagi saya, meskipun saat ini tidak duduk dalam kepengurusan aktif. Perasaan sebagai founding father seolah mengabsahkan perasaan yang ada dalam diri. Setidaknya, apa yang dulu kami lakukan tidak sia-sia dan bukan sekadar mencari sensasi, tetapi benar-benar dilandasi oleh idealisme (istilah yang mungkin sekarang sangat asing bagi mahasiswa).
Keberhasilan ini membawa konsekuensi-konsekuensi, yang tentu saja tetap harus disikapi agar lembaga ini tidak tertinggal dalam dialektika sejarahnya. Keadaan semakin berkembang, banyak yang harus dilakukan, sehingga kebutuhan-kebutuhan yang dulu tidak pernah terpikir sekarang harus dipikirkan. Banyak tantangan dan ancaman ke depan yang harus dihadapi, termasuk vested interested dari berbagai pihak, termasuk pihak internal. Jaringan yang terbentuk pun lebih luas daripada apa yang kami (angkatan 2000) lakukan dulu, bahkan jaringannya mampu menembus level internasional. Jaringannya betul-betul riil, bukan sekadar jaringan-jaringan yang hanya ada di dunia maya. Prestasi yang luar biasa tentunya.
Maka, sebagaimana hukum materi, maka Kamase harus bergerak dan berubah untuk merespon perkembangan ini. Perubahan ini diperlukan, agar Kamase tidak tertinggal oleh laju sejarah yang semakin kencang. Maka tak heran bahwa dalam beberapa pertemuan, antara alumni (aku dan anto) dengan para new kamase-ers (angkatan 2003 dan 2005) selalu muncul wacana-wacana yang mencoba untuk mereposisi Kamase.
Wacana yang menarik dan berguna sebenarnya, tetapi aku takut ini malah mengarah pada upaya kontraproduktif, karena waktu kita hanya akan habis untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Dalam forum tersebut akhirnya tercetus ide untuk bikin Kamase.com (usaha profit), atau salah satu pembimbing yang mencetuskan ide untuk bikin NGO dibidang energi terbarukan.
Dalam forum tersebut (setelah beberapa kali mengadakan pertemuan di Yogya), setidaknya menghasilkan beberapa point penting, bahwa kamase.org (istilah yang kami ciptakan untuk menunjuk pada kamase yang di kampus) tetap bergerak di dunia kampus sebagai “tempat main” mahasiswa untuk mengasah kemampuan intelektualitas dan manajemen organisasi, sekaligus untuk memperluas jaringan kerja. Tempat untuk memupuk idealisme, sesuatu yang idealnya harus dimiliki oleh mahasiswa. Sementara aku ma anto akan mencoba merintis upaya pendirian kamase.com yang berorientasi pada lembaga komersial (profit) yang bergerak di bidang energi terbarukan.
Sementara untuk NGO, posisinya masih menunggi salah satu perintis pulang dari studi Ph.D di Australia.Kenapa kita mengambil bentuk-bentuk seperti itu? Dan kenapa semua coba untuk diakomodasi? Bagaimana kekuatan kita? Karena kita membayangkan sebuah hubungan yang harmonis (simbiosis mutualisme) antara ketiga bentuk tersebut. Harus diakui, selama ini sumber dana kamase.org tidak jelas, karena kita kukuh dengan independesi kita (bukan berarti kita mendapatkan sumber dana dari tindakan melanggar hukum) –belakangan sikap independensi tersebut digugat, yang justru menunjukkan betapa kamase sangat dinamis.
Sehingga dengan kamase.com, salah satu masalah dalam penyediaan sumber dana bagi gerak dan aktifitas kamase.org terpecahkan. Lantas, apa yang didapat kamase.com? Kamase.org akan memberikan sumberdaya manusia. Dengan demikian, selain dana kamase.org juga akan mendapatkan wadah untuk berkreasi dengan ide-ide dan gagasan mereka.
Demikian juga dengan NGO (rencananya akan diberi nama CREATe), dapat menjadi pendukung utama kamase.com, mengingat tenaga ahli dengan kualifikasi Master dan Doktor akan berada disana. Sehingga, akan muncul sebuah research based company. Lantas apa yang didapat oleh CREATe ? Kenapa kita selalau berpikir untung-rugi dalam sebuah hubungan? Kita belum memikirkan bentuk-bentuk hubungan tersebut, tapi seharusnya (das sein) hubungan yang ada tidak mencerminkan hubungan untung-rugi, tapi lebih pada kesamaan visi, misi, idealisme, dan cita-cita. Selain itu, saat ini kita masih mengandalkan pada hubungan emosional, yang berarti hubungan yang sifatnya kultural. Hal ini membuktikan dominannya pendekatan kultural yang dilakukan oleh Kamase daripada pendekatan struktural.
Waktu (sejarah) yang akan membuktikan efektifitas pendekatan kultural tersebut, dan apabila diperlukan tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan modifikasi atas pendekatan tersebut.
Belakangan, muncul gagasan untuk memperluas struktur organisasi agar sesuai dengan kebutuhan. Ini untuk merespon kebutuhan untuk merespon isu sustainable technology, yang meniscayakan pendekatan multidisiplin dan lintas ilmu. Karena itu, kita butuh orang-orang yang mengerti tentang ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam gerakan kamase selanjutnya –demikian argumennya. Saya pikir, untuk merespon isu tersebut kita tidak boleh gegabah. Sebenarnya, ada beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan ketika kita mencoba untuk melakukan perubahan, agar perubahan yang dilakukan tidak membongkar bangunan dasar lembaga tersebut, sehingga ciri dan karakter khas kamase tetap utuh.Yang pertama, adalah sifat independen kamase. Ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Ini adalah akidah kamase, dan semua anggota kamase wajib beriman kepadanya. Kamase harus mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung kepada pihak lain, sehingga bebas dari intervensi, sehingga bebas berkreasi tanpa dibatasi. Keberpihakan kamase hanya pada rakyat dan kebenaran ilmiah. Itulah idealisme kita yang tidak boleh luntur.
Yang kedua, adalah bahwa kamase lahir dari jurusan Teknik Fisika UGM, sehingga dalam geraknya adalah dari, dan oleh mahasiswa jurusan Teknik Fisika UGM, tetapi untuk rakyat dan kebenaran ilmiah. Pengertian inilah yang kemudian dapat diperluas dan disesuaikan sesuai dengan kebutuhanYang ketiga, visi, misi, dan tujuan kamase adalah energi, terutama energi terbarukan. Maka segala perubahan itu tidak mengeluarkan kamase dari rel-nya, yaitu energi. Berangkat dari hal tersebut, maka perubahan yang hendak dilakukan, terutama pada struktur organisasi, hendaknya dilakukan dengan tidak mencabut identitas kamase (independen dan energi terbarukan).
Mengenai penambahan anggota baru, saya pikir tidak ada masalah kalau memang itu diperlukan dan menjadi kebutuhan yang mendesak serta untuk jangka panjang, dengan syarat bahwa kamase tetap berbasis pada jurusan Teknik Fisika UGM. Ini berarti yang menjadi lingkar inti, think tank, ataupu motor penggerak kamase tetap mahasiswa Teknik Fisika UGM. Mahasiswa lain sifatnya hanya komplementer semata, untuk menambah khasanah keilmuan di bidang lain agar sustain. Hal ini berarti pengembangan teknologi energi masih menjadi domain utama kegiatan kamase. Ini bukan bermaksud menganaktirikan ataupun diskriminasi terhadap mahasiswa jurusan lain, tetapi adalah sebagai upaya menjaga agar kamase tetap berada di jalur yang benar.
Dan yang tak kalah penting adalah, sejauhmana kekuatan kita untuk tetap mengantisipasi setiap perubahan yang ada. Mahasiswa TF harus seoptimum mungkin diberdayakan, termasuk didalamnya adalah bidang-bidang non-teknis. Bukankah dengan demikian mahasiswa JTF anggota kamase memiliki nilai lebih bila dibanding yang bukan anggota kamase?.
Masih banyak lagi persoalan yang mungkin akan muncul dan membutuhkan respon yang cepat dan bijak. Oleh karena itu, menurut saya perlu dipikirkan bagaimana sebuah organisasi modern bekerja lewat AD/ART, agar setiap perubahan yang dilakukan tidak membuat keluar dari jalurnya. Atau bila tidak diinginkan menjadi lembaga yang birokratis, maka kamase harus merumuskan pendekatan kultural yang mungkin dilakukan, dengan melibatkan komponen utama (pengurus, alumni, dan pembimbing). Di sini, kita lebih mengedepankan pada aspek etis dalam pendekatannya. Pertanyaannya, sejauh mana kemudian kita semua memiliki komitmen terhadap cita-cita dan idealisme Kamase?.
