Meretas Masa Depan Kamase

•Februari 5, 2008 • 1 Komentar

Apa yang pernah dulu kita impikan bersama, cita-cita, harapan, dan hasrat untuk menjadikan Kamase sebagai lembaga kemahasiswaan yang besar, saat ini sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan wujudnya.

Momentum datang, dan Carpe Diem!!!…Kamase Goes to Mumbai and became major winner in Mondialogo Engineering Award (MEA). Berturut-turut Kamase diundang itu berbicara dalam berbagai seminar/simposium, baik yang skala lokal, nasional, maupun internasional.

Semua ini menjadi hal yang membanggakan, termasuk bagi saya, meskipun saat ini tidak duduk dalam kepengurusan aktif. Perasaan sebagai founding father seolah mengabsahkan perasaan yang ada dalam diri. Setidaknya, apa yang dulu kami lakukan tidak sia-sia dan bukan sekadar mencari sensasi, tetapi benar-benar dilandasi oleh idealisme (istilah yang mungkin sekarang sangat asing bagi mahasiswa).

Keberhasilan ini membawa konsekuensi-konsekuensi, yang tentu saja tetap harus disikapi agar lembaga ini tidak tertinggal dalam dialektika sejarahnya. Keadaan semakin berkembang, banyak yang harus dilakukan, sehingga kebutuhan-kebutuhan yang dulu tidak pernah terpikir sekarang harus dipikirkan. Banyak tantangan dan ancaman ke depan yang harus dihadapi, termasuk vested interested dari berbagai pihak, termasuk pihak internal. Jaringan yang terbentuk pun lebih luas daripada apa yang kami (angkatan 2000) lakukan dulu, bahkan jaringannya mampu menembus level internasional. Jaringannya betul-betul riil, bukan sekadar jaringan-jaringan yang hanya ada di dunia maya. Prestasi yang luar biasa tentunya.

Maka, sebagaimana hukum materi, maka Kamase harus bergerak dan berubah untuk merespon perkembangan ini. Perubahan ini diperlukan, agar Kamase tidak tertinggal oleh laju sejarah yang semakin kencang. Maka tak heran bahwa dalam beberapa pertemuan, antara alumni (aku dan anto) dengan para new kamase-ers (angkatan 2003 dan 2005) selalu muncul wacana-wacana yang mencoba untuk mereposisi Kamase. 

Wacana yang menarik dan berguna sebenarnya, tetapi aku takut ini malah mengarah pada upaya kontraproduktif, karena waktu kita hanya akan habis untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Dalam forum tersebut akhirnya tercetus ide untuk bikin Kamase.com (usaha profit), atau salah satu pembimbing yang mencetuskan ide untuk bikin NGO dibidang energi terbarukan.

Dalam forum tersebut (setelah beberapa kali mengadakan pertemuan di Yogya), setidaknya menghasilkan beberapa point penting, bahwa kamase.org (istilah yang kami ciptakan untuk menunjuk pada kamase yang di kampus) tetap bergerak di dunia kampus sebagai “tempat main” mahasiswa untuk mengasah kemampuan intelektualitas dan manajemen organisasi, sekaligus untuk memperluas jaringan kerja. Tempat untuk memupuk idealisme, sesuatu yang idealnya harus dimiliki oleh mahasiswa. Sementara aku ma anto akan mencoba merintis upaya pendirian kamase.com yang berorientasi pada lembaga komersial (profit) yang bergerak di bidang energi terbarukan.

Sementara untuk NGO, posisinya masih menunggi salah satu perintis pulang dari studi Ph.D di Australia.Kenapa kita mengambil bentuk-bentuk seperti itu? Dan kenapa semua coba untuk diakomodasi? Bagaimana kekuatan kita? Karena kita membayangkan sebuah hubungan yang harmonis (simbiosis mutualisme) antara ketiga bentuk tersebut. Harus diakui, selama ini sumber dana kamase.org tidak jelas, karena kita kukuh dengan independesi kita (bukan berarti kita mendapatkan sumber dana dari tindakan melanggar hukum) –belakangan sikap independensi tersebut digugat, yang justru menunjukkan betapa kamase sangat dinamis.

Sehingga dengan kamase.com, salah satu masalah dalam penyediaan sumber dana bagi gerak dan aktifitas kamase.org terpecahkan. Lantas, apa yang didapat kamase.com? Kamase.org akan memberikan sumberdaya manusia. Dengan demikian, selain dana kamase.org juga akan mendapatkan wadah untuk berkreasi dengan ide-ide dan gagasan mereka.

Demikian juga dengan NGO (rencananya akan diberi nama CREATe), dapat menjadi pendukung utama kamase.com, mengingat tenaga ahli dengan kualifikasi Master dan Doktor akan berada disana. Sehingga, akan muncul sebuah research based company. Lantas apa yang didapat oleh CREATe ? Kenapa kita selalau berpikir untung-rugi dalam sebuah hubungan? Kita belum memikirkan bentuk-bentuk hubungan tersebut, tapi seharusnya (das sein) hubungan yang ada tidak mencerminkan hubungan untung-rugi, tapi lebih pada kesamaan visi, misi, idealisme, dan cita-cita. Selain itu, saat ini kita masih mengandalkan pada hubungan emosional, yang berarti hubungan yang sifatnya kultural. Hal ini membuktikan dominannya pendekatan kultural yang dilakukan oleh Kamase daripada pendekatan struktural.

Waktu (sejarah) yang akan membuktikan efektifitas pendekatan kultural tersebut, dan apabila diperlukan tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan modifikasi atas pendekatan tersebut.

Belakangan, muncul gagasan untuk memperluas struktur organisasi agar sesuai dengan kebutuhan. Ini untuk merespon kebutuhan untuk merespon isu sustainable technology, yang meniscayakan pendekatan multidisiplin dan lintas ilmu. Karena itu, kita butuh orang-orang yang mengerti tentang ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam gerakan kamase selanjutnya –demikian argumennya. Saya pikir, untuk merespon isu tersebut kita tidak boleh gegabah. Sebenarnya, ada beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan ketika kita mencoba untuk melakukan perubahan, agar perubahan yang dilakukan tidak membongkar bangunan dasar lembaga tersebut, sehingga ciri dan karakter khas kamase tetap utuh.Yang pertama, adalah sifat independen kamase. Ini merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Ini adalah akidah kamase, dan semua anggota kamase wajib beriman kepadanya. Kamase harus mandiri, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung kepada pihak lain, sehingga bebas dari intervensi, sehingga bebas berkreasi tanpa dibatasi. Keberpihakan kamase hanya pada rakyat dan kebenaran ilmiah. Itulah idealisme kita yang tidak boleh luntur.

Yang kedua, adalah bahwa kamase lahir dari jurusan Teknik Fisika UGM, sehingga dalam geraknya adalah dari, dan oleh mahasiswa jurusan Teknik Fisika UGM, tetapi untuk rakyat dan kebenaran ilmiah. Pengertian inilah yang kemudian dapat diperluas dan disesuaikan sesuai dengan kebutuhanYang ketiga, visi, misi, dan tujuan kamase adalah energi, terutama energi terbarukan. Maka segala perubahan itu tidak mengeluarkan kamase dari rel-nya, yaitu energi. Berangkat dari hal tersebut, maka perubahan yang hendak dilakukan, terutama pada struktur organisasi, hendaknya dilakukan dengan tidak mencabut identitas kamase (independen dan energi terbarukan).

Mengenai penambahan anggota baru, saya pikir tidak ada masalah kalau memang itu diperlukan dan menjadi kebutuhan yang mendesak serta untuk jangka panjang,  dengan syarat bahwa kamase tetap berbasis pada jurusan Teknik Fisika UGM. Ini berarti yang menjadi lingkar inti, think tank, ataupu motor penggerak kamase tetap mahasiswa Teknik Fisika UGM. Mahasiswa lain sifatnya hanya komplementer semata, untuk menambah khasanah keilmuan di bidang lain agar sustain. Hal ini berarti pengembangan teknologi energi masih menjadi domain utama kegiatan kamase. Ini bukan bermaksud menganaktirikan ataupun diskriminasi terhadap mahasiswa jurusan lain, tetapi adalah sebagai upaya menjaga agar kamase tetap berada di jalur yang benar.

Dan yang tak kalah penting adalah, sejauhmana kekuatan kita untuk tetap mengantisipasi setiap perubahan yang ada. Mahasiswa TF harus seoptimum mungkin diberdayakan, termasuk didalamnya adalah bidang-bidang non-teknis. Bukankah dengan demikian mahasiswa JTF anggota kamase memiliki nilai lebih bila dibanding yang bukan anggota kamase?.

Masih banyak lagi persoalan yang mungkin akan muncul dan membutuhkan respon yang cepat dan bijak. Oleh karena itu, menurut saya perlu dipikirkan bagaimana sebuah organisasi modern bekerja lewat AD/ART, agar setiap perubahan yang dilakukan tidak membuat keluar dari jalurnya. Atau bila tidak diinginkan menjadi lembaga yang birokratis, maka kamase harus merumuskan pendekatan kultural yang mungkin dilakukan, dengan melibatkan komponen utama (pengurus, alumni, dan pembimbing). Di sini, kita lebih mengedepankan pada aspek etis dalam pendekatannya. Pertanyaannya, sejauh mana kemudian kita semua memiliki komitmen terhadap cita-cita dan idealisme Kamase?.

Silsilah keluargaku, 5 generasi yang lalu

•Februari 5, 2008 • 13 Komentar

Ada beberapa kepercayaan yang diyakini oleh keluarga besar dari ibuku, yaitu bahwa kami adalah keturunan dari Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya Sultan Pajang. Namun belum ada satu dokumenpun yang mampu membuktikan kepercayaan itu. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan silsilah keluarga besar di tempat nenek. Sayang, silsilah itu terhenti pada enam generasi di atas (perkiraanku sih akhir abad ke -18 atau sekitar akhir tahun 1700-an), padahal Joko Tingkir hidup tahun 1500-an.

Dibawah ini, saya salin ke dalam bahasa Indonesia, karena dokumen aslinya dalam bahasa Arab. Karena itu, banyak nama orang atau nama lokasi yang masih kosong atau bahkan salah (mohon maaf untuk itu), karena keterbatasan saya dalam penguasaan bahasa Arab. Di samping itu, pohon silsilah dibawah ini masih sangat kurang lengkap. Masih banyak yang kosong. Karena itu, jika ada salah satu anggota keluarga keturunan KH. Idris yang mau melengkapi dokumen ini, saya akan sangat senang sekali. Pada akhirnya, sejarah memang harus ditulis.

SILSILAH KETURUNAN KH. IDRIS BAURENO – BOJONEGORO KH. Idris meninggal dan makamnya di Sendang – Baureno, Bojonegoro. KH. Idris berputera 11 orang, yaitu :

  1. H. Mahali, meninggal dan dimakamkan di desa Grenjeng – Baureno
  2. M. Joyodimejo, meninggal dan dimakamkan di desa Baureno
  3. Ny. Hasan Isma’il, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
  4. M. Suhud, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
  5. M. As’ari, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
  6. M. Prawiro, meninggal dan dimakamkan di desa Rengel, Tuban
  7. Ny. Lurah Mlidek, meninggal dan dimakamkan di desa Mlidek – Kedungadem, Bojonegoro
  8. Ny. Pah, meninggal dan dimakamkan di desa Mlidek – Kedungadem, Bojonegoro
  9. Ny. KH. Abdul Jabar, Maskumambang – Sedayu, Lamongan
  10. Ny. KH. Muhammad Taslim, Kebon – Baureno, Bojonegoro (Makam di desa Sendang – Baureno).
  11. H. Yoyib Naib Tambakboyo, dimakamkan di Tambakboyo, Tuban

Dari sebelas orang tersebut memiliki keturunan sebagai berikut :

I. H. Mahali berputera hanya seorang, yaitu Abdurrahim, yang memiliki keturunan sebagai berikut : 1. Ny. Abu (Masning)  2. Ny. Atmo (Dasminah) 3. Ny. Harjo (Supinah) 4. Ny. Sumiati5. Ny. Singgih Citrowijoyo 6. Ny. Marhaban (Safa’ati) 7. Ny. Roasyidin (Makiatun) 8. Ilham

II. M. Joyodimejo, beristri Puteri M. Kromowijoyo dari Blora, memiliki putera yaitu : 1) Abdullah Umar (Prawirodijoyo), Katib pada Kepenghuluan Bojonegoro 2) M. Usman (Joyoadibroto), Asisten Kolektur Nganjuk, meninggal di Baureno 3) M. Basarun (Prawirodijoyo), Naib kota Blora. 4) Ibu Aisyah (Ny. Sumowijoyo) meninggal di Blora 5) Muhammad Badrun (Harjo Subroto), Manteri Penjual, meninggal di Perak, Jombang.   6) M. Khoirun (Joyodisastro), Pegawai BPM, meninggal di Cepu 7) M. Basyarun (Harjosasmito), Pegawai Listrik, Bojonegoro 8). M. Singgih (Citrowijoyo), pegawai BPM, Cepu 9). isatun (Ny. KH. Ahmad Hadi), meninggal di Baureno 10). Zulia (Ny. H. Ridwan)

Dari keturunan KH. Abdul Jabar telah memiliki organisasi dan silsilahnya ada padanya. Demikian juga demikian keturunan K. Muhammad Taslim/Kebon – Baureno telah memunyai organisasi.

Silsilah Keturunan Kiai Muhammad Taslim + Muti’ah

Kiai Muhammad Taslim memiliki 6 (enam) orang putra, yaitu :

1. Fatimah + Suhada’ 

2. Faizah + Muhammad

3. Khadijah + ‘Umar Amir

4. ‘Aisyah + ‘Abdullah Umar

5. Muqarrib + Ramlah

6. Ibrahim (Palang)

Dari enam orang putera tersebut memiliki keturunan sebagai berikut :

I. Fatimah + Suhada’

1. Rasyidah (Kebon), yang memiliki keturunan :

a. Rasyid (Kebon), yang berputera :  a.1. Muhammad Thaha (…)  a.2. ‘Adnan (Jenar)  a.3. Siti Maryam (Kebon)  a.4. Nurhadi (Babat)  a.5. Mashadi (Kebon)  a.6. Mastifah (Jipang)

b. Muhammad Malik (Kebon) 

c. Rais (Kebon), yang berputera : c.1. Muthmainah (Kebon)   c.2. Mazinah (Babat)   c.3. Nurhadi (Kebon)   c.4. Juwariyah (Kebon)   c.5. Ghufran (Kebon)

d. Muthmainnah (Kebon)

e. Faqih (Bulungan), yang memiliki putra: e.1. Suhari (Tuban)  e.2. Muntari (Jenu)  e.3. Muchtar (Jenu)  e.4. Masfu’ah

f. Rahmah (Kebon)  yang berputra : f.1. Siti Basarah (Klutuk)

2. Masfua’ah (Banjaran), yang berputera :

a. Sahid (Banjaran), yang berputera : a.1. Khalil (Bangkil)

b. Sa’idah (Banjaran), yang berputra : b.1. Zainudin  b.2. Ahmad Zubair

c. Fatimah (Banjaran)

d. Umi Maisarah (Banjaran), yang berputera : d.1. Bukhari (Banjaran)  d.2. Sofyan (Bojonegoro)  d.3. Masfu’ah (…)  d.4. Musri’ah (Banjaran)  d.5. Samsudin (Klutuk)  d.6. Ma’shum (Lamongan)

 e. Dahlan (Banjaran), yang berputera :e.1. Muzayin (Banjaran)

3. Safurah (Kapas), yang memiliki keturunan :

a. Umi Kultsum (Kapas)

b. Zakaria (Kapas)

c. Ahmad Ja’far (Kapas), yang berputra :  c.1. Muntamah (Kalimantan)c.2. Masfu’ah (Kapas)  c.3. Kadri (Kapas)  c.4. Maimunah (Tuban)  c.5. Aminah (Tuban)  c.6. Halimah (Tuban)  c.7. Hafsah (Tuban)  c.8. Tiyana (Tuban)

d. Fadhil (Kabunan), yang memiliki keturunan :  d.1. Ma’inah (Kabunan)  d.2. Marhamah (Kapas)  d.3. Munawarah (Balen)  d.4. Yasin (Kabunan)

e. Thayib (Kapas)

f. Latifah (Kapas), yang memiliki putera :  f.1. Halimah (Bangil)  f.2. Ramlah (Kapas)  f.3. Hindun (Madiun)  f.4. Maunah (Kapas)  f.5. Niswatun (Kapas)

4. Shafiyah

5. Marfu’ah (Bangil), yang memiliki keturunan :

a. Khalisoh (Bangil), yang memiliki putera : a.1. Khalil (Bangil)

b. Syafa’at (Kepoh Baru)

6. Ifrasyim (Kebon) yang berputera :

a. Shafwan (Kebon)

b. Hasanah (Kebon), yang memiliki keturunan :  b.1. Mas’amah (Waru)  b.2. Adnan (Kebon)

c. Zalikhoh + Badrun (Payaman), memiliki putra : c.1. Niswatun (Payaman)  c.2. Adnan (Payaman)  c.3. Ni’mah (Tuban)  c.4. Farhan (Payaman)  c.5. Fauzan (Payaman)  c.6. Fathurrahman (Karangasem)  c.7. Muslihah (Karangasem)  c.8. Fadli (Payaman)

d. Marfu’ah, memiliki satu putri : d.1. Shalihah (Ngampal)

e. Abdul Muhaimin (Kebon), yang memiliki keturunan :  e.1. Badi’ah (Kebon)  e.2. Zuhriyah (Karangasem)  e.3. Hafid (Kebon)  e.4. Mahfudz (Kebon)  e.5. Shafwan Hadi (Kebon)  e.6. Khafi’ah  e.7. Arifin  e.8. Insiyah  e.9. Mujib

f. Mahromah (Kebon)

g. Muzayyin (Kebon), Yang memiliki keturunan : g.1. Muhtaram (Kebon)g.2. Muhlishah (Kebon)  g.3. Maftuh (Kebon)  g.4. Hidayah (Kebon)

7. Ra’isyah (…), yang berputera :

a. Badrun Payaman)

b. Masrifah (Bojonegoro), yang berputera:  b.1. Samunah (Bojonegoro)   b.2. Muslimah (bojonegoro)   b.3. Maisrah (Bojonegoro)   b.4. Musriah (Bojonegoro)   b.5. Masfu’ah(Bojonegoro)   b.6. Maftuhah (Bojonegoro)   b.8. Masduki (Rengel)   b.9. Masruhan (Bojonegoro)

c. Umi Kultsum (Rengel), yang memiliki putera :  c.1. Hidayat (rengel)  c.2. Tutik (Rengel)  c.3. …

d. Nurhadi (Payaman), yang berputra:  d.1. Umi (Kebon)  d.2. Muhin (Payaman)  d.3. Akib (Payaman)   d.4. Fakiha (Payaman

e. Muntamah (Bojonegoro)

8. Qamariyah (Kebon), yang memiliki keturunan:

a. Syatibi (Jenar), yang memiliki putera :  a.1. Abdul Ghafur (Tuban)  a.2. Saifudin (Jenar)  a.3. Suhud (Jenar)  a.4. Muhibah (…)

b. Mutamimah (Kebon)

c. Mutahharah (Kebon), yang berputera :  c.1. Samsiyah (Kepohbaru)  c.2. Khairah (…)  c.3. Mujtahidah (Karangasem)

d. Mudhaffir (Kebon)

II. Faizah + Muhammad

1. Abdullah – Pasinan, yang berputra :

a. Ahmad Ja’far (Pasinan)

b. Muqaddas (Pasinan)

c. Siti Fatimah (Pasinan)

d. Halimah (Jati)

e. Misbah (Pasinan), memiliki putera :  e.1. Sadeli (Pasinan), yang berputera : e.1.1. Umi Kultsum  e.2. Shalihin (Montong), yang memiliki putera : e.2.1. Ulya   e.2.2. Farid  e.3. Khairul Anam (Widang), yang berputera : e.3.1. Riza  e.4. Maskunah (Sumberrejo), yang memiliki putera : e.4.1. M. Nur Fajri Alfata   e.4.2. Fitrotin Najizah  e.4.3. Faishal Miladi Ahmad  e.5. Yasa’ (Pasinan) yang berputra : e.5.1. Doni e.5.2. Ilfi

f. Marfu’ah (Rengel) yang berputra: f.1. Abdul Halim (Rengel)   f.2. Ahmad Syairazi (Rengel)  f.3. Umi Taslimah (…)   f.4. Masrifah (Majenang)

g. Nurhadi (Surabaya)

h. Syuhada’ (Jati)

2. Umi Kultsum – Kebun, yang berputera :

a. Muhammad Amin

b. Afifah (…), memiliki putera :  b.1. Ahmad … (…)

c. Ahyat

d. Mahmudah + Ra’is (Kebon)

e. Badrul Anam (Kebon), memiliki keturunan : e.1. Afif (Sulawesie.2. Afifah (Surabaya)

f. Masfiyah (Dunganti), memiliki keturunan : f.1. Masitah (Dunganti)  f.2. …

g. Abdurrahman (Surabaya), yang memiliki keturunan : g.1. Zaki (Bali)  g.2. Zakiah (Surabaya)   g.3. Umi Kultsum (Surabaya)   g.4. Shalihah (Surabaya)

h. Abdurrahim (Kebon), yang memiliki putera :  h.1. Ismah (…),   h.2. Halimah,  h.3. Amri (Kebon),  h.4. Arham (alm),  h.5. Saifullah (Kebon),  h.6. Wahib (Kebon),  h.7. Ghazi (Kebon)

3. Abdul Muchid – Palang, yang berputera :

a. Khadijah

4. Hindun, yang berputera :

a. Badrul Anam

b. Ahyat

c. Amin

5. Syarif – Sendang, yang berputera :

a. Khadijah (Balen), berputera a.1. Muhammad …,  a.2. Hafsah (Balen),  a.3. Muhammad … (Surabaya),  a.4. Wiwik (Surabaya)

b. Umi Kultsum (Baureno), memiliki putera :  b.1. Abdullah Umar (Babat),  b.2. Umi Hanik (Baureno)

c. Muhammad Ma’shum –alm (Madiun), memiliki putera : c.1. Nafi’ah (Jakarta),  c.2. Hidayat (Madiun)

d. Qamariyah (Jati)

e. Soleh

f. Abdul Malik (Kertosono), memiliki keturunan :  f.1. Tutik Inayah (Kertosono),  f.2. Abdul Harits …(Kertosono),  f.3. M. Amin Kurniawan (Kertosono),  f.4. Anik Mutmainah (Kertosono)

6. Abdurrahman,

7. Ra’isah – Payaman, yang berputera :

a. Badrun

b. Masrifah (Bojonegoro)

c. Umi Kultsum (Rengel)

d. Nurhadi (Payaman)

e. Muntimah (Bojonegoro)

8. Qamariyah – Kebon, yang berputera :

a. Syatibi (Jenar)

b. Muthahharah (Kebon)

c. Mutamimah (Kebon)

d. Mudhafir (Kebon)

III. Khadijah + ‘Umar Amir, yang berputera :

1. Masfu’ – Kebon, yang berputera :

a. Syatibi (Jenar), memiliki putera : a.1. Abdul Ghafur (Tuban),  a.2. Saifuddin (Jenar),  a.3. Suhud (Jenar),  a.4. Habit

2. Habib – Singapura, yang berputera :

3. Ma’inah – Jenar, yang berputera :

a. Musri’ah (Kebon)

b. Siti

c. Asiyah (…)

d. Faqih (Babat), memiliki putera :  d.1. Sofyan,  d.2. Nafi’ah,  d.3. Muhammad Yasin,  d.4. Atin,  d.5. Adi

4. Muslimah – Kebon, yang berputera :

a. Mochtar (Jenu), memiliki putera :  a.1. Abdul Khalik (Jenu),  a.2. … (Tuban),  a.3. Muhtadi (Jenu),  a.4. Muhin (Jenu),  a.5. Lilik (Jenu)

b. Khudori (Kebon)

c. Marzuki (Kebon)

d. Sayyid Kunin (Kebon)

e. Hajar

f. Imamah (Kebon)

g. Muzammil (Kebon), memiliki keturunan :  g.1. Munir,  g.2. Makin,  g.3. Afifah,  g.4. Malirah

h. Masrifah (Kebon), memiliki putera : h.1. Ma’shum,  h.2. Mansyur (Bangilan),  h.3. Musli’ah (Kebon)

i. Mazinah (Kebon), memiliki keturunan :i.1. Yasin (Bangilan),  i.2. Khatimah (Brangkal),  i.3. Masfu’ (Kebon),  i.4. Habib (Tulung),  i.5. ‘Aisyah (Kebon),  i.6. Muniyatun (Kebon)

5. Shafiyah – Sroyo, yang berputera :

a. Ihwan (Sroyo

)b. Muthallib (Sroyo)

c. Najih (Sroyo)

d. ‘Aisyah (Sroyo)

e. Fatimah (Sroyo)

f. Umi Kultsum (Sroyo)

6. Siti Juwariyah – Dunganti, yang berputera :

a. Shafwan (Dunganti)

b. Sukri (Dunganti)

c. Imam (Dunganti)

d. Muthma’inah (Dunganti)

e. Umi Kultsum (Dunganti)

7. Yasin – Kebon, yang berputera :

a. Hamim (…), memiliki putera : a.1. Muhyidin (…),  a.2. Nadhir (…),  a.3. Nadhirah (…),  a.4. Muhib (…),  a.5. Mufidah (…)

b. Ahyar (Kebon)

c. Maimunah (Plumpang), memiliki keturunan : c.1. Maimun,  c.2. Abduh,  c.3. Musta’in,  c.4. Nafsad,  c.5. Mahrus,  c.6. Khalifahc.7. Ismah,   c.8. Dzikrullah

d. Khairul Anam (Kebon), memiliki putera : d.1. ‘Aisyah,  d.2. Sirajuddin,  d.3. Yasin,  d.4. Mufrihah,  d.5. Taslim

e. Nikmah (Kebon)

f.  Khairiyah (Brangkal), memiliki keturunan :  f.1. Abdul Ganif,  .2. Ramzah,  f.3. Bashirah,  f.4. Khazin,  f.5. Dewa,  f.6. Gufran,  f.7. Afifah,  f.8. Nurjanah

IV. ‘Aisyah + ‘Abdullah Umar

1.  Sabi’ati, yang berputera :

a. Sadeli (Laju)

b. Hayat (Gajah)

c. Jufri (Gajah)

2. Khalil – Kebon, yang berputera :

a. Siti Asiyah (Kebon)

b. Ahmad Ghazali (Kebon)

c. Dewa (Kebon)

d. Rofi’ah (Balen)

e. Sa’dullah (Kebon), memiliki putra : e.1. Yazid,  e.2. Umi,  e.3. Zamroni,  e.4. Sa’diyah 

f. Abdul Aziz (Kebon)

g. Miftahul Arifin (Kebon), memiliki keturunan : g.1. Wahyudin,  g.2. …Khalilullah,  g.3. Isti’adah

h. Husnul Khatimah (Kebon)3

. Muslihah – (…), yang berputera :

a. Juwairiyah (Wonokerto), memiliki putra :  a.1. Yasir,  a.2. Aminah,  a.3. Mahfud,  a.4. Mashudi

b. Muhammad Ghufran (Wonokerto), memiliki putra :  b.1. Muflihah,  b.2. Masruhah,  b.3. Abdul Gani,  b.4. Masruhan,  b.5. Muslihah,  b.6. Musbihah,  b.7. Mas’ulah,  b.8. Muslimah

c. Saidah (Wonokerto), memiliki keturunan :  c.1. Mahfud,  c.2. Sa’dullah,  c.3. Asiyah,  c.4. Zubaidah

d. Maskur (alm)

e. Masfu’ah (Wonokerto), memiliki putra :  e.1. Abdurrahim,   e.2. Abdul Gofur,  e.3. Muhirah,  e.4. Abdul Malik

f. Ahmad Marzuki (Wonokerto), yangberputra :  f.1. Muhammad Afifuddin,  f.2. Umi Azizah,  f.3. Muhammad Husnurrafiq,  f.4. Lathifah Nafsiyah,  f.5. Masrurah,  f.6. Muhammad,  f.7. Hakimah,  f.8. Agus Ahmad Fahim

g. Muhammad Syafi’ (Wonokerto), memiliki keturunan :  g.1. Mashud,  g.2. Mashuri,  g.3. Mas Ma’lumah,  g.4. Abdullah,  g.5. Laqiyah,  g.6. Ning Habibah

4. Mujtabi – Sumlaran, yang berputera : 

a. Mudhafir (Karang kambang)

b. Fathurrahman (Karang kambang)

c. Mujari (Karang kambang)

d. Khairul Anam (Karang kambang)

e. Sabi’ati (Lkarang kambang)

f. Shalihah (Karang kambang)

g. Mahsun (Karang kambang)

5. Muntaqa – …, yang berputera : 

a. Muhammad Ihsan

b. Nasuh (…)

c. Imran (Jenu)

d. ‘Aisyah (…)

e. As’ary (solo)

f. Mu’alimah (Gresik)

g. Mujib

V. Muqarrib + Ramlah

1. Hafisah, yang berputera :

a. Jamilah

b. Sarbini

c. Ma’rifah

d. Mashud

2. Haris, yang berputera : Siti Shafiyah

3. Mariah,

4. Khairah,

5. Yahya – Madiun, yang berputera :  Siti Asiyah

6. Masinah,

7. Siti Asiyah,

8. Ismail – Surabaya, yang berputera :

a. Siti Juwariyah (Surabaya)

b. Muhammad Hanafi (Tuban)

c. Siti Ralihah (Surabaya)

VI. Ibrahim (Palang)

VII. Mahbub (…),yang berputera :

1. Idris (…)

2. Mutamimah (…)

3. Siti Rahmah (Babat)

4. Muhammad (Bangilan)

Puisi Untuk Pak Koes

•Januari 21, 2008 • 1 Komentar

Bersama Pak KoesOrang bilang, sastra adalah media penghalus budi. Sastra menyentuh sisi lain dari diri manusia.  Sisi lain itu adalah jiwa, kalbu, dan hati nurani.  Dalam sebuah peziarahan ke Yogyakarta baru-baru ini (19 Januari 2008), disebuah toko buku kutemukan orbituari tentang Pak Koesnadi Hardjasoemantri, orang yang lewat perjumpaan singkat dengannya telah membuatku mencintainya, meninggalkan rekaman sejarah berharga yang ga mungkin terulang. Seorang Guru, Resi, Teladan, seorang Kakek yang bersahaja  dan rendah hati. Orang yang akan selalu kukenang dalam hati. Dalam bagian akhir orbituari tersebut, terdapat puisi-puisi yang dipersembahkan untuk mendiang dari  para sahabat dan semua yang mencintainya. Tiap baris, tiap bait yang kubaca membawaku pada perjumpaan dengan beliau yang begitu berkesan, meskipun begitu singkat. Begitu larut dalam tiap bait puisi,  bulir-bulir air mata jatuh tak tertahan. Rasa rindu bercampur haru, menguasai diri.

Aku akan selalu merindukannya

Aku akan selalu menghidupkannya dalam hati

Mendalami, meresapi, dan menjalankan ajaran-ajarannya

Karena dengan itulah dia akan selalu hidup

Untuk kesekiankalinya aku merasa kehilangan

Sampai harus menangis menahan rindu dan haru

Terima kasih Pak Koes…

Inilah persembahan dari para sahabat dan orang tercinta itu:

Disela-sela sayap ikan Pari:

In Memoriam Koesnadi Hardjasoemantri (1926-2007)

(Oleh Eka Budianta)

Dari sela-sela sayap ikan pari

pada suatu sore di akhir tahun

kulihat wajahnya bercahaya

Dengan kata-kata yang jernih

ia mengisi langit seribu bulan,

mendamaikan gunung dan samudra

Dari sela-sela sayap ikan pari

yang berseliweran di akuarium raksasa

kulihat Koesnadi, 80 tahun bersuara

Candi Borobudur tiba-tiba melintas,

rakyat jelata yang menunggu,

daun-daun menjanjikan hidup baru

Dari sela-sela sayap ikan pari,

kulihat hatinya menarikan Indonesia

lagu yang ikut digubah partiturnya

Bersama perbukitan selatan Pulau Jawa

dengan teluk dan selat kesayangan

Koesnadi telah bergerak dan bersuara

Dari sela-sela sayap ikan pari,

kita belajar terbang dengan merdeka

seperti Koesnadi memberikan hidupnya

  

Sajak Sederhana Buat Pak Koesnadi

(Oleh : Mustofa Bisri)

Begitulah sabda NabiMu,

Allah tidak merenggut ilmu

dari dada-dada

mereka yang berilmu

Tapi dengan mencabut nyawa

hamba-hamba yang dititipiNya ilmu

Semoga kepergianmu, Pak Koes

Bukanlah Tanda

lenyapnya ilmu

Dan orang-orang pun

Mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh

dan gagu

yang sesat dan menyesatkan

Sebab kepergianmu, Pak Koes

Telah meninggalkan murid-murid

yang insya Allah mampu

menyemaikan benih-benih ilmu

yang engkau tinggalkan

  

Pagi itu Engkau Pergi:

Kepada Profesor Koesnadi Hardjasoemantri

(Oleh: HM. Nasruddin Anshory Ch)

Guru, benarkah engkau telah pergi?

Kata-kata itulah yang terus kuucapkan sepanjang malam

Dalam gemuruh tadarus di gunung batu

Bersama ribuan pohon jati

Yang menjeritkan suara hati

Seribu gunung turut tafakur

Daun-daun mangga, mahoni, danakasia

Siap-siap bergugur

Mengiringi doa dan air mata

Agar kelak tumbuh tunas-tunas baru

Sebab sejak kecil telah terpahat petuah Ibu

Bahwa di seberang maut

Juga ada taman-taman rindu

Pagi itu, ya, pagi itu

Langit biru di atas Yogya makin membiru

Ketika beribu bunga, kabar duka dan harum cendana

Telah mengguratkan garis takdirnya

Guru,

isyarat itu telah datang padaku

Sebelum burung besi itu mengantarkan kepergianmu

Seorang lelaki berjubah putih

Telah kembali pada kemudi

Masih hangat sajadah terakhir mencatat

Keningmu yang basah air wudhu

Di subuh itu

Menaburkan wangi syahadat

Pohon-pohon cendana yang kau tanam itu

terus tumbuh

Menerjemahkan hidup dan keharuman

Tanpa harus berkeluh

dan bukkit-bukit tandus itu

Seakan sedang berdandan

Dengan warna hijau  dan wangi keringat petani

Bagaimana harus kutafsirkan hidup

Jika nafas harus sekeras cadas?

Bagaimana akan kuterjemahkan dahaga

Jika seluruh air sungai telah menjelma sampah dan tinja ?

  

Titipan

(Oleh: WS Rendra)

Seringkali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipanNya,

bahwa rumahku hanya titipanNya,

bahwa hartaku hanya titipanNya,

bahwa putraku hanya titipanNya, tetapi

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali olehNya?

ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah,

kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,

kusebut dengan panggilan apa saja

untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

aku ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

Seolah… semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah… keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti

matematika:

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku,

dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu,

bencana dan keberuntungan sama saja”

(Dipersembahkan untuk mengenang Kawanku, Sahabatku, Guruku,

Orangtuaku, Pimpinanku Pak Koesnadi)

  

Senyum Itu Pergi

(Oleh: D. Zawawi Imron)

Ia disemayamkan di Balairubf

Orang-orang berkumpul untuk menghormatinya

Dengan haru yang utuh

Hutan kecil Bulaksumur depan gedung itu ikut sembahyang

ketika jenazah disalatkan

Memang saat hidupnya jenazah itu,

Sering merasa bersalat dalam hutan

Berjamaah dengan jutaan pohon

Karena itu burung-burung berdatangan

Untuk melayat dan mengucapkan tahlil terakhir untuknya

Seakan taka da kefasihan yang bisa menampung

kedalaman rasa sayang yang bercampur duka

KEfasihan ada yang berupa setetes air mata

Dan paling tidak meleleh dalam dada

Dan aku tahu

burung-burung itu tidak berbasa-basi

Seperti sebagian manusia

Sebagaimana kematian pun bukan basa-basi

Bahkan bukan kebetulan

karena selembar daun kering

tidak akan gugur ke bumi tanpa izin Allah

Jenazah itu pasti tersenyum

Karena merasa mendapat anugerah

untuk menemukan “kesejatian”

secara tak terduga

Orang-orang boleh memandangnya sebagai malapetaka

Ia pergi ke sebuah alam baru

Yang tak penting lagi barat atau utara

Di sini pun bersujud untuk meraup makna

“karena itu, selamat jalan Pak Koes!

Selamat bertemu dengan rumah hakikat

habitatmu yang bukan mimpi

yang dulu kaupesan sambil melangkah

membetulkanmata angin

sambil mengajar anak-anakmu tersenyum

kepada hutan,

sungai,

pasir,

dan terumbu

Kaulah yang mengajarku

bahwa setangkai mawar tidak lebih mulia

daripada segenggam rumput yang rela dikunyah

anak domba yang kelaparan”

Kami kepunyaan Allah

Dan kepada Allah kami akan kembali

Semua akan mencatat

kepergian jenazah itu begitu indah

begitu khidmat

sehingga angin cepat berpencaran

kemana-mana

dan bercerita kepada mendung

kepada bukit, batu danlembah

bahwa senyum dan ketenangan itu

telah pergi untuk menemukan cahaya

Tapi senyum itu sekarang

seakan masih tertinggal di bumi

terbayang pada daun-daun

Bahkan sesekali seperti mengintai

dai balik tirai langit yang bairu

Pak Koes,

telah kau sempurnakan senyummu

Senyum yang terasa belum selesai

dan belum selesai

Anak-anakmu yang setia

pasti melanjutkan senyummu

Amin!

Antara Hidup dan Mati

•Januari 16, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jika kau belum pernah merasakan berada antara hidup dan mati, maka percayalah bahwa benar kata Nabi, rasanya menyakitkan sekali, seperti disayat-sayat oleh ratusan, bahkan ribuan pedang. Beberapa waktu yang lalu, aku merasa berada antara ada dan tiada, antar hidup dan mati. Bahkan untuk sesaat aku merasa “well then, may be this is my last time life in this fucking world”. Untuk sesaat aku percaya bahwa Tuhan begitu merindukanku, sehingga tidak sabar untuk bertemu denganku.
Ya,,,malam itu tiba-tiba aku diserang sesak nafas yang luar biasa. Sulit sekali untuk bernafas. Bahkan untuk sesaat aku percaya nafasku telah terhenti. Sakitnya luar biasa. Luar biasa. Ada tabung oksigen disampingku, dengan selang yang terpasang di hidung yang harus mendukung pernafasanku. Dengan alat bantu seperti itu saja, pernafasanku masih separuh-separuh. Sakitnya luar biasa. Luar biasa.
Dokter memvonisku asma kronis (atau akut ya, aku lupa)…Oh God, setelah sebelumnya (bulan Juni) aku divonis ginjal dan hatiku rusak, vonis ini seolah-olah kembali membawaku ke jurang keputusasaan. Tuhan, apalagi yang kaumainkan terhadap diriku ini ???
Syukurlah (atau aku harus menyesalinya?) Tuhan masih berkenan menyelamatkan hidupku. Mungkin Tuhan masih sayang padaku, sehingga aku diberiNya kesempatan untuk hidup sekali lagi, agar aku dapat introspeksi dan memperbaiki hidupku yang rusak dan jauh dari keinginanNya. Atau justru mungkin Tuhan murka, sehingga aku diijinkan untuk terus berbuat dosa di dunia lebih lama lagi. Kalau memang harus kusyukuri, maka yang kusyukuri adalah kiriman seorang sahabat untukku. Jauh-jauh datang dari Jombang untuk menghadiri acara pernikahan seorang kawan di Jakarta harus tersita waktu untuk melarikanku ke UGD RS Sarjito. Dan menemaniku. Bahkan untuk biaya Rumah Sakit, dia juga yang menanggungnya. Aku sudah berpikir bahwa akhirnya ada juga seorang sahabat yang menemaniku di saat-sat terakhirku, hehehe…(makasih cup, u’re really best friend ever I had. I don’t know what happen to me if you weren’t there).
Kalau ada yang harus kusesali, bukanlah bahwa Tuhan menunda kematianku. Aku yakin Tuhan Maha Bijaksana, dan pasti punya rencana yang terbaik untukku. Tetapi yang kusesali, kemanakah kalian wahai orang-orang yang mengaku sebagai sahabat? Apakah seperti itu bentuk persahabatan yang kalian tawarkan kepadaku? Kemana kalian saat seharusnya aku butuh kalian? Lebih menyakitkan lagi, selama bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama dengan banyak mimpi indah tentang persahabatan, tetapi ketika aku sekarat hanya seorang sahabat yang menemaniku. Sakit.
Tapi, seperti kata pepatah, kecewa hanya ada ketika kita banyak berharap. Dan aku salah ketika berharap pada kalian.
Memang, persahabatan mestinya dilandasi ketulusan dan altruisme, tanpa berharap apa-apa. Dalam konteks inilah saya melakukan kesalahan. Tetapi, kenapa kalian tidak memberikan ketulusan itu padaku? Ah, saya kembali kepada keyakinan lama, bahwa tidak ada ketulusan di dunia ini.

Kamase Go Internasional

•Desember 11, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pagiku disambut dengan berita hangat dan menyenangkan. Kamase memulai debut manis di dunia Internasional dengan menyabet best ten dalam “kontes” penelitian ilmiah di Mumbai, India. Acara yang disponsori PBB dan Daimler-Chrysler itu mempertemukan dua budaya yang berbeda, dari developed country and developing country. Kamase, tim dari Indonesia berpartner dengan tim dari Curtin University, Australia. Terlepas dari adanya KKN (tim dari Curtin salah satunya mahasiswa dari Indonesia) dalam persekongkolan ini, tapi prestasi ini terasa sangat luar biasa. Luar biasa, karena aku ga pernah membayangkan bahwa apa yang kumulai 5 – 6 tahun lalu itu kini membuahkan prestasi yang gemilang. Meskipun saat ini aku (alumni) Kamase, tetapi apa yang mereka raih membuatku bangga luar biasa.
Keep moving forward guys…i’m proud of u…
Hidup Kamase, Hidup Energi Terbarukan, dan Jayalah Negeriku….

Negeri Anarkis

•Desember 10, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Entah apa yang terjadi dengan negeri ini. Seolah-olah tidak ada yang menyenangkan jika kita membicarakan negeri ini. Indonesia, yang katanya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta raharjo, justru seperti menunjukkan paradox of plenty dengan sangat kasat mata, suatu kenyataan yang ironis sebenarnya. Cerita-cerita yang tidak menyenangkan itulah yang terlontar dari mulut kawan-kawan dalam sebuah obrolan pagi di kantin kantor. Cerita dari masalah yang sangat kecil, sepele, hingga masalah yang masuk kategori “besar”.
Lihat aja di bunderan Cibiru, disana banyak kendaraan berhenti (padahal bukan tempat kendaraan berhenti), kemacetan terjadi, semrawut, preman banyak yang malak kondektur bus didepan mata anggota Polisi. Apa gunanya polisi disitu ? eh..”jangan salah, preman disana juga setor pada polisi disitu”, kata seorang kawan. Rupanya telah terjadi simbiosis mutualisme disana. Kendaraan umum ngetem seenaknya dipinggir jalan, kemacetanpun tak terelakkan. Pengendara motor jalan lewat trotoar yang membahayakan jalan. Trotoar yang mestinya untuk pejalan kaki, digunakan toko PKL. Susahnya, ketika mereka digusur, mereka berdalih telah dapat ijin dari pihak yang berwenang karena telah membayar sejumlah uang tertentu. Nah lho…
Bagaimana peraturan di bandara dikalahkan oleh sekelompok massa (tukang ojek), sehingga banyak tukang ojek berkeliaran di sekitar bandara yang seharusnya dilarang. Banyak taksi argo mulut berkeliaran disekitar bandara karena selingkuh dengan petugas keamanan bandara, bagaimana barang-barang bagasi dengan seenaknya masuk pesawat hanya dengan sedikit sogokan kepada petugas (padahal overload dapat menyebabkan kecelakaan pesawat). Perjudian dan perzinahan yang sialnya dilindungi “oknum” aparat. Flu burung yang ga pernah tuntas (Indonesia peringkat pertama dalam hal penanganan flu burung terburuk didunia). Sampai pada masalah jual beli kasus, mafia peradilan, ketidakadilan social, tersangka korupsi yang justru diangkat sebagai calon hakim agung (Prof. Ahmad Ali), kebakaran hutan dan ekspor asap, illegal logging, pengerukan sebagian pulau di Kep. Riau untuk dijual pada Singapura degan seijin Pemda, dan entah kasus apalagi yang ga bisa dihitung dengan jari.
Lebih enak hidup di Indonesia daripada di AS, kata seorang kawan. Yang pertama, Indonesia negeri yang sangat liberal. Gimana tidak, disini mau ngapain aja terserah. Mau ngrokok ditempat umum, silakan. Mau buka toko, monggo. Pokonya serba bebas. Kalau di AS, mau bikin warung aja harus ada ijin. Ada sertifikasi untuk barang yang dijual sehingga aman dan layak dikonsumsi masyarakat. Mau ngrokok ga boleh ditempat umum. Yang kedua, kalau di AS ngurus segala sesuatu, seperti KTP, SIM, kartu jaminan harus sendiri. Tapi di Indonesia, bisa dititipin lewat jasa calo. Kawanku sambil ketawa…Kalau itu sih bukan liberal, tapi anarkis.
Benarkah negeri ini sedemikian anarkis ? sebenarnya tidak, kalau definisi normatif dari anarkis kita gunakan secara konsisten. Di Indonesia, sudah banyak peraturan yang dibuat. Tetapi masalah ada pada implementasi yang lemah. Yah,,,itu kan sama saja dengan anarkis, kata seorang kawan lagi. Kita memang pandai membuat aturan, tapi kita juga pandai menyiasati dan mencurangi peraturan tersebut.
Ah entahlah, mungkin benar kata kawan tersebut. Negeri ini memang benar-benar anarkis. Kalau kita gunakan metafora Quranik, seandainya pohon di seluruh dunia kita jadikan pena dan lautan kita jadikan tinta, mugkin tidak akan cukup untuk menuliskan masalah-masalah yang menimpa negeri ini. Hehehe….

Di Balik Cerita Sejarah

•Desember 6, 2007 • 18 Komentar

Ada banyak versi ketika berbicara tentang Syech Lemah Abang alias Syech Siti Jenar. Ada yang melihat dari sudut pandang konflik antarmahzab, antara ‘ulama fiqh dengan ‘ulama tasawuf. Ada yang melihat dari sudut pandang politik. Bahkan ada yang meragukan sosok Syekh Siti Jenar sebagai sosok sejarah, dan hanya mitos belaka. Tak heran bila kemudian cerita tentangnya sangat simpang siur, bahkan cnderung mengalami mistifikasi.
Ternyata ada versi lagi dari sejarah tersebut. Syekh Siti Jenar seorang ‘ulama Syi’ah dan berusaha untuk mendirikan kerajaan Islam Syi’ah merdeka dari Demak. Inilah yang mendasari konflik antara Wali Sanga (yang pro-Demak) dengan Syekh Siti Jenar yang menjadi pendukung utama Kebo Kenanga yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Demak dan mendirikan kerajaan Pengging yang beraliran Syi’ah. Akibat konflik tersebut jelas, yaitu pihak Pengging mengalami kekalahan telak, dengan kematian Kebo Kenanga di tangan Sunan Kudus, dan ditangkapnya Syekh Siti Jenar oleh kerajaan Demak.
Syekh Siti Jenar-pun diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan makar (bukan karena menyebarkan ajaran wahdatul wujud). Masalahnya tidak berhenti hanya sampai disini saja. Akibat pemberontakan tersebut, Sunan Gunung Jati dan Wali Sanga berencana untuk menumpas dan membinasakan pengikut Syi’ah. Tapi rencana ini dicegah olah Haji Abdullah Iman alias Walangsungsang (Wong Ageung Cirebon Seuwue Siliwangi), dengan alasan bahwa pengikut mahzab Syafi’i dan Syi’ah di Cirebon sama banyak, sehingga semua berhak untuk menganut mahzab yang diyakininya.
Untuk meredam gejolak pengikut Syekh Siti Jenar yang banyak, maka makam Syaikh Lemah Abang dipindahkan dari Kemlaten ke kompleks makam keluarga kraton di Gunung Sembung. Untuk membina para pengikutnya yang berjumlah banyak, Sunan Kalijaga ditugaskan untuk menggantikan Syekh Siti Jenar, sehingga ia beralih mazhab dari Hanafi menjadi Syi’ah.
Dari sejarah versi diatas, ada tiga hal yang menarik. Yang pertama adalah bahwa pendapat bahwa Syekh Siti Jenar adalah ‘ulama Syi’ah. Beliau memang dikenal sebagai seorang sufi, tapi bahwa Syekh Siti Jenar seorang bermahzab Syi’ah perlu dibuktikan kebenarannya. Kalaupun ini benar, maka ini merupakan fenomena yang menarik yang mungkin bisa menjelaskan corak hubungan antara mahzab Sunni dan Syi’ah di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.
Yang kedua, peralihan mahzab dari Hanafi ke Syi’ah oleh Sunan Kalijaga. Terlepas dari benar tidaknya kesyia’ahan Sunan Kalijaga, setidaknya fenomena perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa. Bukan hanya antarmahzab Sunni, bahkan antara mahzab Sunni dan Syi’ah. Seperti yang ditulis oleh Quraish Shihab dalam bukunya Sunni – Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah ?, menyebutkan titik-titik perbedaan dan persamaan antara Sunni – Syi’ah yang pada intinya tidak keluar dari koridor Islam, sehingga semestinya antara Mahzab Sunni dan Syi’ah dapat tercipta persaudaraan, tidak harus terjadi permusuhan sehingga harus saling menumpas dan membinasakan seperti apa yang direncanakan oleh Wali Sanga di masa lampau. Sehingga perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa dan tidak perlu dipermasalahkan, seperti yang dicontohkan oleh Sunan Kalijaga.
Yang ketiga, jika Kebo Kenanga murid Syaikh Lemah Abang adalah seorang Syi’ah, apakah anaknya, Mas Karebet alias Jaka Tingkir juga seorang penganut mahzab Syi’ah. Kenapa hal ini begitu penting?. Karena aku perlu tahu apakah aku memiliki nenek moyang bermahzab Syi’ah. Di lingkungan keluarga besarku (dari pihak Ibu) ada kepercayaan/keyakinan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang, yaitu Jaka Tingkir alias Mas Karebet, yang makamnya belakangan kuketahui ada di Lamongan (itulah kenapa Persela Lamongan dijuluki Laskar Jaka Tingkir). Jika memang benar Mas Karebet bermahzab Syi’ah, maka secara tidak langsung (dan jauh) aku memiliki darah mahzab Syi’ah, hehehe….

Mengenang Prof. T. Jacob

•Desember 5, 2007 • 1 Komentar

Saya benar-benar kaget ketika mengetahui bahwa Prof. Teuku Jacob telah tiada dua bulan yang lalu (17 Oktober). Saya mengetahuinya dalam kolom pojok Kompas yang memuat berita kematian seorang guru besar antropologi UI Prof. Suparlan, yang disebut meninggal dalam kesendirian dan kesunyian seperti yang dialami oleh Prof. T. Jacob. Aneh, disaat arus informasi sedemikian cepat, saya baru mengetahui berita lelayu ini 2 bulan setelahnya.
Pertemuan dengan tokoh-tokoh seperti Prof. Teuku Jacob selalu istimewa. Pertemuan itu terjadi hanya 2 jam di rumah beliau, di Sekip Yogyakarta, saat saya menjadi Steering Committee HPTT ke-56 Fsayaltas Teknik UGM. Kesan pertama terhadap beliau adalah bahwa beliau orangnya perfeksionis. Dan karena sifat perfeksionis tersebut saya harus kena damprat. Seorang teman (perempuan) menelpon beliau minta ijin untuk ketemu. Ketika beliau melihat yang datang adalah saya, beliau bilang :”Kemarin yang menelpon perempuan, kok yang datang laki-laki”, sergah beliau tanpa memersilakan duduk lebih dulu. Terus selama dua jam saya “dikuliahi” tentang profesionalisme, intelektualitas, logika –beliau marah-marah ketika saya mengucapkan kata-kata yang secara logika rancu, dan kata itu adalah “terkait”, kemahasiswaan –yang menurut beliau sekarang kualitas mahasiswa sangat rendah, kemanusiaan –sambil menceritakan ide dan gagasan beliau dalam pembangunan kampus UMS terpadu yang “manusiawi” dan “integratif” serta mengembalikan konsep universitas kepada asalnya. Dan kita banyak diskusi tentang seminar tersebut hari itu, tetang tema dan pembicara seminar, tentang arah, tujuan dan sasaran seminar, bahkan berbicara tentang kondisi bangsa secara umum. Benar-benar diskusi yang menarik. Bukan karena tema diskusi, tapi karena penempatan beliau yang menyejajarkan diri dengan saya yang hanya mahasiswa biasa ini (perlsayaan yang sama pernah saya dapatkan ketika bertemu Prof. Kusnadi Harjasumantri). Diakhir pertemuan tersebut beliau memberi komentar kepadsaya, “jarang ada mahasiswa yang mampu bertahan berhadapan dengan saya selama ini”. Tentu saja saya anggap sebagai pujian, dan saya bangga dipuji oleh orang sekelas Prof. Teuku Jacob.
Prof. T. Jacob merupakan salah satu ilmuwan bangsa generasi pertama Layaknya ilmuwan generasi pertama, hidupnya sangat sederhana, komitmen yang tinggi terhadap ilmu yang ditekuninya, yaitu Paleoantropologi (ini mengherankan, karena beliau adalah seorang dokter tetapi membenci darah). Istilah ekstrimnya, buku-buku menjadi istri pertamanya. Inilah tipologi ilmuwan sejati, bukan ilmuwan salon. Beliau adalah ilmuwan generasi pertama yang meneliti Pithecantropus erectus. Beliau pernah menjabat Rektor UGM periode 1981 – 1986, tepat sebelum Prof. Kusnadi Hardjasumantri menjabat.
Karena komitmennya terhadap ilmu yang ditekuninya, banyak yang mengatakan beliau menjalani semacam asketisme intelektual. Sengaja menjauhkan diri dari hiruk pikuk kehidupan luar kampusnya, tidak peduli dengan dunia di luar ilmu yang ditekuninya, semacam sosok di menara gading kehidupan. Tapi menurutku itu tidak benar. Menjauhkan diri tidak berarti beliau tidak mengerti dan tidak peduli pada kehidupan diluar dirinya. Banyak tulisan-tulisan beliau di media massa, baik local (seperti Kedaulatan Rakyat) maupun nasional, membuktikan bahwa beliau sangat memahami persoalan hingga ke intinya. Dan masyarakat selalu menjadi perhatian utama beliau. Bukankah itu salah satu bentuk kepedulian beliau terhadap edukasi masyarakat ?
Mungkin benar, bahwa tipologi ilmuwan generasi pertama sangat mencintai ilmunya melebihi cinta pada dirinya sendiri. Itulah mengapa ilmuwan seperti mereka kurang begitu memerhatikan kesehatan. Dan kematian mereka yang begitu mengagetkan, dalam kesunyian dan kesendirian memperkuat dugaan tersebut.
Tetapi, dibalik itu semua, banyak teladan yang ditinggalkan oleh mereka kepada genarasi berikutnya, termasuk kita, bukan?

Sugeng Rawuh…

•November 30, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Selamat datang,,, kata yang banyak dipasang dipinggir jalan tiap masuk kota di Indonesia. Bukti keramahan bangsa ini. Karena aku adalah bagian dari bangsa tersebut, maka tolong terima keramahanku juga, dengan mengucapkan Selamat datang diduniaku, dunia simulakral tentunya. Orang Jawa bilang Sugeng Rawuh, Urang Sunda bilang Wilujeng Sumping, Kalo orang Arab bilang Ahlan Wa Sahlan, Tapi kalau orang Namibia ga tahu bilangnya…
Sebenarnya ini bukanlah yang pertama aku nulis blog. Tapi bikin blog khusus, ini yang pertama. Sebelumnya banyak nulis di FS (yang aku lupa alamat blognya). Sebenarnya inipun karena ikut-ikutan tren yang berkembang sekarang. Jadi biar ngga dikatain katrok, ndeso, jadul, de es be…Jadi tolong jangan katakan bahwa aku juga udah mulai ikut-ikutan mass culture (budaya MTV) yang menghilangkan identitas unik pribadi. Bukan karena itu. Juga bukan karena sekarang era terbuka, sehingga aku perlu membuka semua hal tentangku disini. Percayalah, hanya lewat blog aja, anda ga akan tahu siapa saya sebenarnya. Dalam dunia simulakral, antara nyata dan ga nyata sulit (untuk tidak mengatakan ga bisa) dibedakan, karena kita bermain di wilayah citra. Ketika masuk wilayah citra, harus dilihat apa kepentingannya. Dan akhirnya dunia tersebut hanyalah menjadi medan perebutan makna tanpa tahu entitas realitas yang sebenarnya (das ding an sich).
Tapi bagaimanapun juga, dengan membaca blogku ini, semoga muncul rasa ingin tahu. Bukankah rasa ingin tahu adalah pintu masuk ke wilayah pengetahuan ? So, jangan biarkan dahaga rasa ingin tahu anda tidak terpuaskan. Eksplorasi lebih jauh, dan pilah-pilah mana yang nyata dan mana yang tidak, maka anda akan menemukan pengetahuan yang sebenarnya. Bukankah pengetahuan yang sebenarnya dekat dengan kebijaksanaan. Dengan cara itulah para filosuf bekerja.
Well,,,bagaimanapun juga, Welcome to Simulacrum World. Just Beware, or u will lost in the labirint.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.