Di Balik Cerita Sejarah
Ada banyak versi ketika berbicara tentang Syech Lemah Abang alias Syech Siti Jenar. Ada yang melihat dari sudut pandang konflik antarmahzab, antara ‘ulama fiqh dengan ‘ulama tasawuf. Ada yang melihat dari sudut pandang politik. Bahkan ada yang meragukan sosok Syekh Siti Jenar sebagai sosok sejarah, dan hanya mitos belaka. Tak heran bila kemudian cerita tentangnya sangat simpang siur, bahkan cnderung mengalami mistifikasi.
Ternyata ada versi lagi dari sejarah tersebut. Syekh Siti Jenar seorang ‘ulama Syi’ah dan berusaha untuk mendirikan kerajaan Islam Syi’ah merdeka dari Demak. Inilah yang mendasari konflik antara Wali Sanga (yang pro-Demak) dengan Syekh Siti Jenar yang menjadi pendukung utama Kebo Kenanga yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Demak dan mendirikan kerajaan Pengging yang beraliran Syi’ah. Akibat konflik tersebut jelas, yaitu pihak Pengging mengalami kekalahan telak, dengan kematian Kebo Kenanga di tangan Sunan Kudus, dan ditangkapnya Syekh Siti Jenar oleh kerajaan Demak.
Syekh Siti Jenar-pun diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan makar (bukan karena menyebarkan ajaran wahdatul wujud). Masalahnya tidak berhenti hanya sampai disini saja. Akibat pemberontakan tersebut, Sunan Gunung Jati dan Wali Sanga berencana untuk menumpas dan membinasakan pengikut Syi’ah. Tapi rencana ini dicegah olah Haji Abdullah Iman alias Walangsungsang (Wong Ageung Cirebon Seuwue Siliwangi), dengan alasan bahwa pengikut mahzab Syafi’i dan Syi’ah di Cirebon sama banyak, sehingga semua berhak untuk menganut mahzab yang diyakininya.
Untuk meredam gejolak pengikut Syekh Siti Jenar yang banyak, maka makam Syaikh Lemah Abang dipindahkan dari Kemlaten ke kompleks makam keluarga kraton di Gunung Sembung. Untuk membina para pengikutnya yang berjumlah banyak, Sunan Kalijaga ditugaskan untuk menggantikan Syekh Siti Jenar, sehingga ia beralih mazhab dari Hanafi menjadi Syi’ah.
Dari sejarah versi diatas, ada tiga hal yang menarik. Yang pertama adalah bahwa pendapat bahwa Syekh Siti Jenar adalah ‘ulama Syi’ah. Beliau memang dikenal sebagai seorang sufi, tapi bahwa Syekh Siti Jenar seorang bermahzab Syi’ah perlu dibuktikan kebenarannya. Kalaupun ini benar, maka ini merupakan fenomena yang menarik yang mungkin bisa menjelaskan corak hubungan antara mahzab Sunni dan Syi’ah di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.
Yang kedua, peralihan mahzab dari Hanafi ke Syi’ah oleh Sunan Kalijaga. Terlepas dari benar tidaknya kesyia’ahan Sunan Kalijaga, setidaknya fenomena perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa. Bukan hanya antarmahzab Sunni, bahkan antara mahzab Sunni dan Syi’ah. Seperti yang ditulis oleh Quraish Shihab dalam bukunya Sunni – Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah ?, menyebutkan titik-titik perbedaan dan persamaan antara Sunni – Syi’ah yang pada intinya tidak keluar dari koridor Islam, sehingga semestinya antara Mahzab Sunni dan Syi’ah dapat tercipta persaudaraan, tidak harus terjadi permusuhan sehingga harus saling menumpas dan membinasakan seperti apa yang direncanakan oleh Wali Sanga di masa lampau. Sehingga perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa dan tidak perlu dipermasalahkan, seperti yang dicontohkan oleh Sunan Kalijaga.
Yang ketiga, jika Kebo Kenanga murid Syaikh Lemah Abang adalah seorang Syi’ah, apakah anaknya, Mas Karebet alias Jaka Tingkir juga seorang penganut mahzab Syi’ah. Kenapa hal ini begitu penting?. Karena aku perlu tahu apakah aku memiliki nenek moyang bermahzab Syi’ah. Di lingkungan keluarga besarku (dari pihak Ibu) ada kepercayaan/keyakinan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang, yaitu Jaka Tingkir alias Mas Karebet, yang makamnya belakangan kuketahui ada di Lamongan (itulah kenapa Persela Lamongan dijuluki Laskar Jaka Tingkir). Jika memang benar Mas Karebet bermahzab Syi’ah, maka secara tidak langsung (dan jauh) aku memiliki darah mahzab Syi’ah, hehehe….

idih.. ujung2nya narsis, bahas tentang diri sendiri :p
blogmu ta link ya riel…
Apakah jaka tingkir alias Mas karebet it seorang murit Sunan Kalijaga? Apa benar?
makasih udah di link
btw, cara bikin link gimana? hehehe…
To Mas Hermanto: Maaf, aku belum menemukan catatan tentang hal itu. Kalau novel sejarah dapat dijadikan sebagai sumber sejarah, dalam novel Nagasasra dan Sabuk Inten karya SH Mintardja, hanya disebutkan bahwa Mas Karebet pernah bertemu Kanjeng Sunan, tapi tidak diceritakan bagaimana Mas Karebet murid Kanjeng Sunan.
Perlu peneltian apakah masa hidup Kanjeng Sunan dengan Mas Karebet sama, soalnya Mas Karebet hidup zaman Sultan Trenggono, Sultan Demak ke-3, sementara Para Wali, termasuk Kanjeng Sunan Kalijaga hidup semasa Sultan Pertama, Raden Patah. Apakah orang mampu hidup selama 3 generasi, kayaknya perlu penelitian deh…
Maaf..
Mas Hermanto yg budiman.Trims atas infonya..
Aku jd tahu banyak tentang cerita itu.
Ow jadi jaka Tingkir tu makame di Lamonagn to?Baru tahu ik..
Setauku dia lahir di Tingkir and ku juga lahir di sana…
Dan sekarang masuk wilayah Salatiga City…
Wah sapa tau kita masih sodara ya…
Ma Gus Dur juga donk…
Salam kenal…
O iya situ moyangnya Jaka Tingkir yah ? gini mas..saya juga buyut dulu pasukan jaka tingkir..dan ada peninggalan senjata berupa pedang, untuk itu saya mo berniat mencari family yang berasal Desa Tingkir Salatiga, konon sejak pecahnya kerajaan jaka tingkir, buyut saya pindah ke tuban lalu ke probolinggo jatim…Mas Herman ada informasi yang lengkap mengenai desa tingkir dan moyang mas soalnya saya berniat ingin mencari keluarga buyut saya di desa tersebut ? bisa minta emailnya mas? biar lebih private
Salam kenal juga mas..
mungkin kita bisa saling berkomunikasi lewat japri aja..
kalo ada yg tau info lengkap mengenai desa tingkir bisa kirim email ke rifqi_gis@yahoo.com makasih..
Halo, saya juga keturunan ke 14 dari Jaka Tingkir, Keluarga bapak saya punya silsilahnya dan saat ini sudah saya update. Namun setelah membaca riwayat Jaka Tingkri di Internet, ada perbedaan tentang anak Jaka Tingkir versi internet dan versi silsilah leluhur yang kami punya. Kalau leluhur bapak saya asli Desa Bangsri, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Disana ada makam Eyang Buyut Saya (Mas Ronggo Martodiwerno) dan Eyang Saya (Mas Ronggo Tarudiwerno). Ada yang mau lihat silsilah keturunan Jaka Tingkir versi keluarga saya? nanti saya kirim lewat email. tks
Mas Hengki, makasih banyak atas komentarnya.
Saya sangat tertarik dengan data-data yang sampean punya. Kalau ga keberatan aku mau minta data dari anda
Makasih banyak…
hi, kalu boleh saya pengen tau mengenai silsilah keturunan Jaka Tingkir yang lain…
Maaf, saya ga punya. Saya hanya unya silsilah keluarga saya 5 generasi ke atas, ga sampai ke Joko Tingkir. Itupun masih dugaan, dalam arti hanya keyakinan dari keluarga besarku bahwa kami adalah keturunan yang ke sekian dari Joko Tingkir, tapi belum ada yang membuktikan. Nah, saya tertarik untuk membuktikannya. Makasih banyak..
Mas Hengki Atmadji
Mas situ juga keturunan Djaka Tingkir ? weeeh kalo gitu sama dgn saya, kakek saya keturunan dari Taruna Sembito. kakek saya juga tinggal di Wonogiri dusun setrorejo . Wah masih Brother nih.
Mas Hengki dan mas arielfata, dari garis ibu saya juga keturunan Jaka Tingkir. Melalui jalur Dyah Banowati putri Pangeran Benawa bin Jaka Tingkir. Saya sedang meneliti silsilah ke atas dari Jaka Tingkir. Mohon bantuan data tolong di-email juga ke saya di m.norsatya@yahoo.com. Syukron
Saya juga sedang meneliti untuk membuktikan dugaan (atau kepercayaan) keluarga besar kami. Kalau Mas Norsatya tidak berkeberatan, mari saling tukar informasi. semoga bermanfaat.
waahh hebaaaattt…keturunan jaka tingkir..,
(cerita lebih banyak donk..)
gw suka cerita2 sejarah nihh…,
apalagi dipandu salah seorang keturunan langsung nya..,
kirim yahh ke email saiyaa..me_sugarcoma@hotmail.com
mas emang dapatnya artikel ini dari mana??????????? apakah artikel ini dapat dipercaya
Tulisan ini saya ambil dari sebuah buku. Maaf saya lupa judul bukunya, tetapi inti buku tersebut adalah Sejarah Sunda (di sana ada tokoh Haji Abdullah Iman atau Walangsungsang alias Wong Ageung Cirebon Seuwue Siliwangi), dan salah satu fragmennya adalah konflik antara wali songo dan syekh siti jenar. Untuk kebenarannya, wallahu a’lam…Tapi setidaknya, ada sudut pandang lain dalam melihat konflik tersebut.