Antara Hidup dan Mati
Jika kau belum pernah merasakan berada antara hidup dan mati, maka percayalah bahwa benar kata Nabi, rasanya menyakitkan sekali, seperti disayat-sayat oleh ratusan, bahkan ribuan pedang. Beberapa waktu yang lalu, aku merasa berada antara ada dan tiada, antar hidup dan mati. Bahkan untuk sesaat aku merasa “well then, may be this is my last time life in this fucking world”. Untuk sesaat aku percaya bahwa Tuhan begitu merindukanku, sehingga tidak sabar untuk bertemu denganku.
Ya,,,malam itu tiba-tiba aku diserang sesak nafas yang luar biasa. Sulit sekali untuk bernafas. Bahkan untuk sesaat aku percaya nafasku telah terhenti. Sakitnya luar biasa. Luar biasa. Ada tabung oksigen disampingku, dengan selang yang terpasang di hidung yang harus mendukung pernafasanku. Dengan alat bantu seperti itu saja, pernafasanku masih separuh-separuh. Sakitnya luar biasa. Luar biasa.
Dokter memvonisku asma kronis (atau akut ya, aku lupa)…Oh God, setelah sebelumnya (bulan Juni) aku divonis ginjal dan hatiku rusak, vonis ini seolah-olah kembali membawaku ke jurang keputusasaan. Tuhan, apalagi yang kaumainkan terhadap diriku ini ???
Syukurlah (atau aku harus menyesalinya?) Tuhan masih berkenan menyelamatkan hidupku. Mungkin Tuhan masih sayang padaku, sehingga aku diberiNya kesempatan untuk hidup sekali lagi, agar aku dapat introspeksi dan memperbaiki hidupku yang rusak dan jauh dari keinginanNya. Atau justru mungkin Tuhan murka, sehingga aku diijinkan untuk terus berbuat dosa di dunia lebih lama lagi. Kalau memang harus kusyukuri, maka yang kusyukuri adalah kiriman seorang sahabat untukku. Jauh-jauh datang dari Jombang untuk menghadiri acara pernikahan seorang kawan di Jakarta harus tersita waktu untuk melarikanku ke UGD RS Sarjito. Dan menemaniku. Bahkan untuk biaya Rumah Sakit, dia juga yang menanggungnya. Aku sudah berpikir bahwa akhirnya ada juga seorang sahabat yang menemaniku di saat-sat terakhirku, hehehe…(makasih cup, u’re really best friend ever I had. I don’t know what happen to me if you weren’t there).
Kalau ada yang harus kusesali, bukanlah bahwa Tuhan menunda kematianku. Aku yakin Tuhan Maha Bijaksana, dan pasti punya rencana yang terbaik untukku. Tetapi yang kusesali, kemanakah kalian wahai orang-orang yang mengaku sebagai sahabat? Apakah seperti itu bentuk persahabatan yang kalian tawarkan kepadaku? Kemana kalian saat seharusnya aku butuh kalian? Lebih menyakitkan lagi, selama bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama dengan banyak mimpi indah tentang persahabatan, tetapi ketika aku sekarat hanya seorang sahabat yang menemaniku. Sakit.
Tapi, seperti kata pepatah, kecewa hanya ada ketika kita banyak berharap. Dan aku salah ketika berharap pada kalian.
Memang, persahabatan mestinya dilandasi ketulusan dan altruisme, tanpa berharap apa-apa. Dalam konteks inilah saya melakukan kesalahan. Tetapi, kenapa kalian tidak memberikan ketulusan itu padaku? Ah, saya kembali kepada keyakinan lama, bahwa tidak ada ketulusan di dunia ini.

Tinggalkan Balasan