Puisi Untuk Pak Koes
Orang bilang, sastra adalah media penghalus budi. Sastra menyentuh sisi lain dari diri manusia. Sisi lain itu adalah jiwa, kalbu, dan hati nurani. Dalam sebuah peziarahan ke Yogyakarta baru-baru ini (19 Januari 2008), disebuah toko buku kutemukan orbituari tentang Pak Koesnadi Hardjasoemantri, orang yang lewat perjumpaan singkat dengannya telah membuatku mencintainya, meninggalkan rekaman sejarah berharga yang ga mungkin terulang. Seorang Guru, Resi, Teladan, seorang Kakek yang bersahaja dan rendah hati. Orang yang akan selalu kukenang dalam hati. Dalam bagian akhir orbituari tersebut, terdapat puisi-puisi yang dipersembahkan untuk mendiang dari para sahabat dan semua yang mencintainya. Tiap baris, tiap bait yang kubaca membawaku pada perjumpaan dengan beliau yang begitu berkesan, meskipun begitu singkat. Begitu larut dalam tiap bait puisi, bulir-bulir air mata jatuh tak tertahan. Rasa rindu bercampur haru, menguasai diri.
Aku akan selalu merindukannya
Aku akan selalu menghidupkannya dalam hati
Mendalami, meresapi, dan menjalankan ajaran-ajarannya
Karena dengan itulah dia akan selalu hidup
Untuk kesekiankalinya aku merasa kehilangan
Sampai harus menangis menahan rindu dan haru
Terima kasih Pak Koes…
Inilah persembahan dari para sahabat dan orang tercinta itu:
Disela-sela sayap ikan Pari:
In Memoriam Koesnadi Hardjasoemantri (1926-2007)
(Oleh Eka Budianta)
Dari sela-sela sayap ikan pari
pada suatu sore di akhir tahun
kulihat wajahnya bercahaya
Dengan kata-kata yang jernih
ia mengisi langit seribu bulan,
mendamaikan gunung dan samudra
Dari sela-sela sayap ikan pari
yang berseliweran di akuarium raksasa
kulihat Koesnadi, 80 tahun bersuara
Candi Borobudur tiba-tiba melintas,
rakyat jelata yang menunggu,
daun-daun menjanjikan hidup baru
Dari sela-sela sayap ikan pari,
kulihat hatinya menarikan Indonesia
lagu yang ikut digubah partiturnya
Bersama perbukitan selatan Pulau Jawa
dengan teluk dan selat kesayangan
Koesnadi telah bergerak dan bersuara
Dari sela-sela sayap ikan pari,
kita belajar terbang dengan merdeka
seperti Koesnadi memberikan hidupnya
Sajak Sederhana Buat Pak Koesnadi
(Oleh : Mustofa Bisri)
Begitulah sabda NabiMu,
Allah tidak merenggut ilmu
dari dada-dada
mereka yang berilmu
Tapi dengan mencabut nyawa
hamba-hamba yang dititipiNya ilmu
Semoga kepergianmu, Pak Koes
Bukanlah Tanda
lenyapnya ilmu
Dan orang-orang pun
Mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh
dan gagu
yang sesat dan menyesatkan
Sebab kepergianmu, Pak Koes
Telah meninggalkan murid-murid
yang insya Allah mampu
menyemaikan benih-benih ilmu
yang engkau tinggalkan
Pagi itu Engkau Pergi:
Kepada Profesor Koesnadi Hardjasoemantri
(Oleh: HM. Nasruddin Anshory Ch)
Guru, benarkah engkau telah pergi?
Kata-kata itulah yang terus kuucapkan sepanjang malam
Dalam gemuruh tadarus di gunung batu
Bersama ribuan pohon jati
Yang menjeritkan suara hati
Seribu gunung turut tafakur
Daun-daun mangga, mahoni, danakasia
Siap-siap bergugur
Mengiringi doa dan air mata
Agar kelak tumbuh tunas-tunas baru
Sebab sejak kecil telah terpahat petuah Ibu
Bahwa di seberang maut
Juga ada taman-taman rindu
Pagi itu, ya, pagi itu
Langit biru di atas Yogya makin membiru
Ketika beribu bunga, kabar duka dan harum cendana
Telah mengguratkan garis takdirnya
Guru,
isyarat itu telah datang padaku
Sebelum burung besi itu mengantarkan kepergianmu
Seorang lelaki berjubah putih
Telah kembali pada kemudi
Masih hangat sajadah terakhir mencatat
Keningmu yang basah air wudhu
Di subuh itu
Menaburkan wangi syahadat
Pohon-pohon cendana yang kau tanam itu
terus tumbuh
Menerjemahkan hidup dan keharuman
Tanpa harus berkeluh
dan bukkit-bukit tandus itu
Seakan sedang berdandan
Dengan warna hijau dan wangi keringat petani
Bagaimana harus kutafsirkan hidup
Jika nafas harus sekeras cadas?
Bagaimana akan kuterjemahkan dahaga
Jika seluruh air sungai telah menjelma sampah dan tinja ?
Titipan
(Oleh: WS Rendra)
Seringkali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipanNya,
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya, tetapi
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali olehNya?
ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
aku ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah… semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah… keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja”
(Dipersembahkan untuk mengenang Kawanku, Sahabatku, Guruku,
Orangtuaku, Pimpinanku Pak Koesnadi)
Senyum Itu Pergi
(Oleh: D. Zawawi Imron)
Ia disemayamkan di Balairubf
Orang-orang berkumpul untuk menghormatinya
Dengan haru yang utuh
Hutan kecil Bulaksumur depan gedung itu ikut sembahyang
ketika jenazah disalatkan
Memang saat hidupnya jenazah itu,
Sering merasa bersalat dalam hutan
Berjamaah dengan jutaan pohon
Karena itu burung-burung berdatangan
Untuk melayat dan mengucapkan tahlil terakhir untuknya
Seakan taka da kefasihan yang bisa menampung
kedalaman rasa sayang yang bercampur duka
KEfasihan ada yang berupa setetes air mata
Dan paling tidak meleleh dalam dada
Dan aku tahu
burung-burung itu tidak berbasa-basi
Seperti sebagian manusia
Sebagaimana kematian pun bukan basa-basi
Bahkan bukan kebetulan
karena selembar daun kering
tidak akan gugur ke bumi tanpa izin Allah
Jenazah itu pasti tersenyum
Karena merasa mendapat anugerah
untuk menemukan “kesejatian”
secara tak terduga
Orang-orang boleh memandangnya sebagai malapetaka
Ia pergi ke sebuah alam baru
Yang tak penting lagi barat atau utara
Di sini pun bersujud untuk meraup makna
“karena itu, selamat jalan Pak Koes!
Selamat bertemu dengan rumah hakikat
habitatmu yang bukan mimpi
yang dulu kaupesan sambil melangkah
membetulkanmata angin
sambil mengajar anak-anakmu tersenyum
kepada hutan,
sungai,
pasir,
dan terumbu
Kaulah yang mengajarku
bahwa setangkai mawar tidak lebih mulia
daripada segenggam rumput yang rela dikunyah
anak domba yang kelaparan”
Kami kepunyaan Allah
Dan kepada Allah kami akan kembali
Semua akan mencatat
kepergian jenazah itu begitu indah
begitu khidmat
sehingga angin cepat berpencaran
kemana-mana
dan bercerita kepada mendung
kepada bukit, batu danlembah
bahwa senyum dan ketenangan itu
telah pergi untuk menemukan cahaya
Tapi senyum itu sekarang
seakan masih tertinggal di bumi
terbayang pada daun-daun
Bahkan sesekali seperti mengintai
dai balik tirai langit yang bairu
Pak Koes,
telah kau sempurnakan senyummu
Senyum yang terasa belum selesai
dan belum selesai
Anak-anakmu yang setia
pasti melanjutkan senyummu
Amin!

aku jga bani taslim dari kebon baureno,dr mbh abdul muhaimin + mbh nikmah ibuku zuhriah karangasem babat lamongan.matursuwun